Euforia.id | Riset terbaru mengenai populasi hiu paus di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) mengungkap tingginya interaksi antara hiu paus dan aktivitas perikanan, terutama di sekitar bagan apung.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa interaksi tersebut sering kali menyebabkan luka pada hiu paus.
Edy Setyawan, pemimpin riset, menyatakan bahwa dari 268 individu hiu paus yang teridentifikasi, hampir semuanya ditemukan di sekitar bagan apung, dengan 159 individu di Teluk Cenderawasih dan 95 individu di Kaimana.
Interaksi ini memiliki dampak serius pada hiu paus. Hasil riset menunjukkan 76,9% hiu paus di BLKB mengalami berbagai luka, mulai dari goresan, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan.
Meskipun hanya 2,4% luka yang disebabkan oleh baling-baling kapal, proporsi luka akibat interaksi manusia, baik melalui perikanan maupun wisata, tetap tinggi. Di perairan Kaimana, angka ini mencapai 83,7%.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, menjelaskan bahwa riset ini merekomendasikan pengelolaan wisata dan perikanan yang lebih hati-hati.
Ia menekankan perlunya desain bagan yang ramah hiu paus dan penerapan kode etik wisata yang ketat.
”Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, tetapi harus dikelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem,” ujar Iqbal.
Iqbal menambahkan, dengan tingginya masa tinggal hiu paus di Teluk Cenderawasih dan Kaimana, spesies ini merupakan aset berharga.
“Karena itu, kami mendorong regulasi modifikasi bagan, seperti menghilangkan bagian tajam untuk mengurangi risiko luka saat hiu paus berinteraksi di sekitar bagan,” katanya.
Riset ini juga mendorong perluasan pemantauan melalui integrasi basis data foto ID lintas lembaga, serta melibatkan nelayan, masyarakat lokal, dan wisatawan dalam sains warga.
Penggunaan teknologi seperti pelacakan satelit juga diusulkan untuk memahami pola migrasi dan penggunaan habitat hiu paus dengan lebih akurat.