Menu

Mode Gelap

Jayapura

Potret SD Negeri Mosso di Perbatasan RI – PNG

badge-check


					SD Negeri Mosso Perbesar

SD Negeri Mosso

Jayapura, Euforia.id | Gapura merah dengan lengkungan bertuliskan Pemerintah Kota Jayapura Dinas Pendidikan, berdiri menyambut siapa pun yang menginjakkan kaki di halaman SD Negeri Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.

Pagar besi berwarna biru yang catnya mulai mengelupas, menghiasi wajah sekolah dasar terakhir di Kota Jayapura yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini.

​Kondisinya masih cukup layak, tak jauh berbeda dengan sekolah negeri lainnya di Kota Jayapura, hanya ada beberapa plafon dan dinding yang mulai rusak.

​Selain itu, rumput di halaman sekolah pun terlihat mulai meninggi, menyelimuti area yang biasanya menjadi tempat bermain anak-anak. Pada salah satu dinding ruang kelas yang dicat putih dan merah, terdapat mural bertuliskan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kalimat itu seolah menjadi pengingat dan penyemangat bagi murid-murid di sana, meski kenyataannya, perjuangan untuk benar-benar “terang” secara literasi masih menempuh jalan yang terjal.

​Di dalam kelas, suasana terasa sangat bersahaja. Ruangan yang luas dengan lantai keramik putih itu hanya diisi beberapa pasang meja dan kursi kayu.

​Plafon di dalam kelas pun tak luput dari kerusakan; beberapa lembar tripleks tampak patah dan nyaris jatuh. Di ruang kelas itulah, sejumlah guru mencurahkan energinya setiap hari.

​Aktivitas belajar di sini memiliki ritmenya sendiri. Saat jam istirahat, anak-anak Mosso berlarian di selasar tanpa alas kaki. Tawa mereka pecah saat bermain, sejenak melupakan bahwa di dalam kelas mereka harus bergelut dengan pelajaran yang diberikan oleh guru.

​Stevanus Mandowen, Kepala Sekolah SD Negeri Mosso menuturkan, meski banyak kendala yang mereka hadapi dalam proses belajar mengajar, namun semua aktivitas di sana berjalan dengan normal seperti sekolah pada umumnya.

​Total keseluruhan, SD Negeri Mosso memiliki 98 murid yang mengenyam pendidikan di sana, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Seluruh murid merupakan anak asli kampung Mosso.

​”Aktivitas belajar di sini semuanya tetap berjalan normal, di SD Negeri Mosso ini ada 98 murid itu total murid dari kelas 1 sampai kelas 6,” kata Mandowen.

Guru Tinggal di Kota

​Selain kepala sekolah Stevanus Mandowen, total ada 12 tenaga pengajar yang mengajar di SD Negeri Mosso. Sebanyak 5 orang guru PNS, 4 orang guru PPPK, dan 3 guru honorer.

​Dari seluruh staf pengajar itu, hanya Stevanus yang menetap bersama istrinya di lokasi sekolah menggunakan satu-satunya unit perumahan guru yang masih layak pakai.

Sedangkan guru-guru yang lain sebagian besarnya tinggal di tempat yang jauh. Ada yang di Dok IX, Abe, Kotaraja, dan Koya.

​”Hanya saya sendiri dan istri yang tinggal di sini di perumahan guru. Sebenarnya ada dua kopel, tapi satunya sudah rusak. Itu dibangun tahun 2021 tapi sudah rusak karena mungkin tidak ditempati. Jadi kami hanya pakai satu kopel saja,” kata Mandowen.

​Stevanus menjelaskan, jam masuk sekolah di SD Negeri Mosso sangat dipengaruhi oleh faktor perjalanan para pengajar yang tinggal jauh di pusat kota Jayapura. Hal ini membuat proses belajar sering kali baru dimulai pada pukul 08.00 pagi.

​”Guru-guru ini tinggal di kota, ada yang di Abe, di Kotaraja, Dok IX, terus di Koya. Jadi siswa ini kadang mereka sudah datang duluan, tapi mereka belajar biasanya mulai jam 8 kurang. Kami sesuaikan dengan kehadiran atau ketepatan guru datang mengajar. Pembelajarannya seperti biasa, kalau mulai jam 8 atau jam 9, pulangnya jam 1 pas,” ujar Mandowen.

​Kampung Mosso memang letaknya sangat jauh dari pusat Kota. Kampung ini berada di ujung timur Kota Jayapura, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Papua Nugini.

SD Negeri Mosso

Guru-guru SD Negeri Mosso yang tinggal di Kota setiap harinya harus menempuh perjalanan jauh dengan jarak sekitar 40 kilometer, atau memakan durasi sekitar 2 jam menggunakan kendaraan roda dua.

​Fika, seorang guru PPPK di SD Negeri Mosso yang tinggal di Koya bahkan mulai berangkat dari rumahnya jam setengah 7 pagi. Ia tiba di sekolah jam 8 kurang. Setiap harinya ia berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor.

​Meski jalan yang dilalui sudah beraspal mulus. Tapi perjalanan menuju Kampung Mosso melewati kawasan hutan yang sepi.

​”Saya berangkat dari rumah itu jam setengah 7 pagi pakai motor. Sendiri setiap ke sekolah, tapi sudah terbiasa, perjalanan juga selama ini aman-aman saja,” kata Fika.

Namun, jarak fisik yang mencapai puluhan kilometer tersebut tidak menyurutkan langkah Fika dan rekan-rekannya.

​Baginya, mengabdi di Mosso tak hanya sekadar menjalankan tugas negara, tapi sudah menjadi panggilan hati. Ia melihat bahwa anak-anak di perbatasan memiliki hak yang sama untuk bermimpi.

“Saya sudah mengajar di SD Negeri Mosso sejak 2023. Walaupun jauh, itu sudah menjadi tugas kita para guru. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak di Kota,” katanya.

Tantangan Literasi

​Stevanus Mandowen mengungkapkan kendala utama yang ia hadapi adalah masalah komunikasi dan minat baca. Anak-anak di Mosso tumbuh dengan tiga bahasa: bahasa Nyao (bahasa kampung), bahasa Fiji, dan bahasa Indonesia.

Selain itu, Stevanus harus berdamai dengan isolasi informasi. Meski listrik sudah ada, sinyal internet di Mosso masih sangat terbatas.

​”Sinyal tidak ada. Hanya sekarang saja, sekarang sudah ada sinyal dari Telkomsel, tapi sinyal 4G belum. Hanya sinyal E,” tuturnya.

​Setiap pagi, Stevanus memulai hari dengan menghadapi dilema antara kurikulum nasional dan realitas budaya lokal. Guru-guru di bawah arahannya, yang semuanya sudah bergelar sarjana pendidikan, harus memiliki kesabaran ekstra saat menjelaskan materi.

Saat ini tercatat ada 98 murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Jumlah ini telah mengalami kenaikan signifikan dibandingkan beberapa tahun lalu yang hanya berkisar di angka 50-an.

Dalam hal kurikulum, sekolah kini menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar. Namun, hambatan terbesar adalah ketersediaan buku cetak.

​”Buku itu yang susah. Selama ini dari dinas belum ada penyaluran, jadi guru-guru lebih banyak inisiatif ambil dari internet, di-download, baru di-print dan dijilid sendiri,” kata Stevanus.

​Meskipun dihimpit tantangan bahasa dan keterbatasan sinyal internet, SD Negeri Mosso menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Persentase kelulusan kini berada di angka 65 hingga 75 persen, dan seluruh siswa di kelas-kelas kini perlahan sudah bisa membaca.

Baca Lainnya

SMK 1 Jayapura Diusulkan Jadi Sekolah Pariwisata Unggulan Papua

12 Januari 2026 - 14:35 WIB

SAGA Group Resmikan Wahana Bermain Ocean Adventure

2 Januari 2026 - 13:47 WIB

Napas Pinang, Kontribusi Pupuk Indonesia Menjaga Warisan Sosial dari Akar

31 Desember 2025 - 23:49 WIB

Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Jayapura Menurun Sepanjang 2025

31 Desember 2025 - 18:56 WIB

Trending di Jayapura