Menu

Mode Gelap

Advertorial

Hadapi Lonjakan Populasi Lansia, DBS Indonesia Kampanyekan ‘Pensiun Gak Susah’

badge-check


					dok DBS Indonesia Perbesar

dok DBS Indonesia

Jakarta, Euforia.id | Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation resmi meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah” sebagai langkah nyata dalam menghadapi fenomena penuaan masyarakat (ageing society) di Asia, khususnya Indonesia.

Inisiatif ini bertujuan mendorong masyarakat untuk merencanakan masa depan sejak dini guna memastikan kehidupan yang sejahtera dan bermakna di usia senja.

​Persiapan ini dinilai mendesak mengingat data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa pada 2045, sekitar 20 persen penduduk Indonesia atau 63 juta jiwa akan berusia di atas 60 tahun.

Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator untuk membantu masyarakat mensimulasikan kebutuhan finansial masa tua yang disesuaikan dengan gaya hidup impian secara lebih terarah.

​Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menegaskan, perubahan demografi menuntut pergeseran cara pandang.

Ia mengatakan, perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.

“Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ujar Mona Monika.

​Pentingnya memulai perencanaan sedini mungkin juga ditekankan oleh Founder & CEO sekaligus Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto.

Menurutnya, perencanaan pensiun memerlukan kesinambungan melalui strategi praktis seperti formula pos pengeluaran 10/20/30/40.

“Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal, penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup.

Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10 persen dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan rutin sehari-hari.

​Selain kesiapan dana, Bank DBS Indonesia juga menyoroti peluang strategis dalam silver economy seiring meningkatnya angka harapan hidup global.

Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyatakan bahwa manajemen kekayaan yang tepat adalah kunci kemandirian lansia.

“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri. Sebagai mitra tepercaya dalam manajemen kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun,” ujar Djoko.

Baca Lainnya

Cara Aktivasi Paket Liburan IM3 dan Tri

29 Desember 2025 - 23:46 WIB

Sukacita Natal, Indosat Berbagi Kasih dengan Anak-Anak dari Komunitas Rentan

23 Desember 2025 - 12:43 WIB

Lindungi Diri dari Inflasi: IFG Life Dorong 5 Pilar Strategi Finansial Menuju 2026

13 Desember 2025 - 11:05 WIB

Indosat Satu-satunya Telco RI di Daftar ‘Best Companies to Work For’ Fortune Asia

12 Desember 2025 - 10:01 WIB

Trending di Advertorial