Jayapura, Euforia.id | Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua merilis data tetap luas panen dan produksi padi tahun 2025 untuk empat provinsi di wilayah Papua.
Laporan yang dirilis Senin (2/2/2026) tersebut menunjukkan tren yang beragam, di mana Provinsi Papua Selatan dan Papua Pegunungan mencatat lonjakan drastis, sementara Provinsi Papua dan Papua Tengah justru mengalami penurunan produksi.
Provinsi Papua Selatan mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan utama dengan capaian produksi padi sebesar 362.542,11 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka itu melonjak tajam sebesar 66,46 persen atau bertambah sekitar 144.752,49 ton dibandingkan tahun 2024. Kenaikan ini sejalan dengan perluasan area panen yang mencapai 79.433,92 hektare.
Peningkatan persentase tertinggi terjadi di Provinsi Papua Pegunungan. Meskipun secara volume hanya memproduksi 346,31 ton GKG, angka tersebut merupakan kenaikan fantastis sebesar 717,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 42,38 ton GKG.
Seluruh produksi di provinsi itu terkonsentrasi di Kabupaten Jayawijaya.
Sebaliknya, Provinsi Papua mencatat penurunan produksi yang cukup dalam. Produksi padi di wilayah induk ini merosot 59,67 persen, dari 4.609,95 ton GKG pada 2024 menjadi 1.859,06 ton GKG pada 2025.
Penurunan itu dipicu oleh berkurangnya luas panen sebesar 59,52 persen di berbagai sentra produksi seperti Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.
Kondisi serupa terjadi di Provinsi Papua Tengah yang memproduksi 3.805,44 ton GKG. Jumlah tersebut turun 37,33 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 6.072,38 ton GKG.
Penurunan signifikan dilaporkan terjadi di wilayah Kabupaten Nabire, meski Kabupaten Mimika sempat menunjukkan tren peningkatan.
Secara keseluruhan, jika total produksi padi di keempat provinsi tersebut dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk pada tahun 2025, Papua Selatan: 207.006,95 ton beras, Papua Tengah: 2.172,85 ton beras, Papua: 1.061,45 ton beras, dan Papua Pegunungan: 197,75 ton beras.
Meski terdapat penurunan di beberapa wilayah, BPS memproyeksikan adanya potensi peningkatan luas panen pada awal tahun 2026 di Provinsi Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan berdasarkan pengamatan fase pertumbuhan tanaman.










