Jayapura, Euforia.id | Laga Persipura Jayapura menghadapi Persiku Kudus di Stadion Lukas Enembe, Minggu (3/5/2026) besok, menarik kembali ingatan masa lalu. Duel penentu tiket promosi itu menghadirkan kembali memori perjuangan tim Mutiara Hitam tiga dekade silam.Tiga puluh tiga tahun lalu, Desember 1993, Persipura dan Persiku terlibat dalam drama serupa di babak penentuan Divisi Satu Perserikatan.
Kala itu, skuad Mutiara Hitam berada dalam masa transisi, setelah terdegradasi dari Divisi Utama pada musim 1989/1990 dan berjuang di kasta kedua selama tiga tahun.
Skuad besutan pelatih legendaris, HB Samsi, dihuni oleh talenta-talenta muda berbakat. Skuad itu didominasi jebolan Diklat Irian Jaya 1986, plus sejumlah pemain muda lainnya.
Nama-nama seperti Ritham Madubun, Ferdinando Fairyo, Aples Tecuari, Chris Leo Yarangga, Ronny Wabia, Robert Lestuni, Alfred Refasi, Yohanes Bonay, Theo Awom, Ramses Rumbekwan, Alexander Pulalo, Abdul Haji Mayor, Robert Yom, sampai David Saidui menjadi tulang punggung tim.
Manajer Persipura saat itu, Spencer Infandi, memberikan kepercayaan penuh kepada mereka setelah keberhasilan menjuarai Kejuaraan antar PPLP se-Indonesia tahun 1990, dan raihan medali emas di Pekan Olahraga Nasional XIII Jakarta tahun 1993, yang masih dikenang dengan gol fenomenal David Saidui.
Skuad muda itu memulai perjuangannya di Denpasar, Bali, dengan misi membawa Persipura promosi.
Mereka tergabung di Grup II bersama tuan rumah Perseden Denpasar, Persedikab Kediri, dan Persijap Jepara. Nando Fairyo cs berhasil lolos dan melangkah ke babak 8 besar.
Pada persaingan perempat final itu, mereka menempati Grup L, yang diisi oleh Persibri Batanghari, Persiku Kudus, dan Persma Manado.
Persipura lolos dengan mudah. Mereka melangkah ke babak semifinal bersama Persiku Kudus.
Sayangnya, Persipura harus berhadapan dengan saudaranya, Persidaf Dafonsoro, di laga semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Senayan, Jakarta, 8 Desember 1993.
Persipura menang telak di laga itu dengan skor 9-0.
Persipura menapaki partai puncak atau laga final dengan menantang lawan yang sama di babak 8 besar, Persiku Kudus.
9 Desember 1993 di Stadion Utama Senayan, menjadi hari bersejarah. Tim Mutiara Hitam melumat Persiku dengan skor 3-0 dan membawa pulang trofi juara Divisi Satu Perserikatan, sekaligus memastikan diri sebagai kontestan di Divisi Utama yang kelak dikenal dengan sebutan Liga Indonesia I atau Liga Dunhill 1994/1995.
Kini, siklus sejarah itu kembali berulang. Setelah sempat bertahan selama 29 tahun di kasta tertinggi dan mengoleksi empat gelar juara Liga Indonesia, Persipura harus menelan kenyataan pahit saat terdegradasi pada 2022.
Tiga musim sudah mereka berjuang di kasta kedua. Kali ini mereka dihadapkan pada situasi dan lawan yang sama dengan memori tiga dekade silam.
Laga melawan Persiku hari Minggu besok akan menjadi kesempatan untuk mengakhiri penantian, kembali ke rumah semula.
Persipura mengantongi 53 poin, jumlah yang sama dengan PSS Sleman yang juga akan berjuang melawan PSIS pada laga terakhir.
Apapun hasilnya, laga menghadapi Persiku kembali menjadi pintu bagi Mutiara Hitam untuk promosi ke kasta tertinggi.
Kalau pun PSS menang, Persipura masih memiliki jalan lain melalui babak play-off menghadapi runner-up Grup Barat, Adhyakasa.
Dukungan publik di Stadion Lukas Enembe akan menjadi suntikan energi berlipat ganda untuk memastikan sejarah berulang dengan hasil yang manis.














