Euforia.id | Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia pada September 2025. Persentase penduduk miskin kini berada di angka 8,25 persen, menyusut 0,22 persen poin dibandingkan kondisi Maret 2025 dan turun 0,32 persen poin jika dibandingkan dengan September tahun lalu.
Meski secara persentase nasional menurun, data terbaru menunjukkan adanya anomali di wilayah perkotaan. Di saat kemiskinan perdesaan turun signifikan dari 11,03 persen menjadi 10,72 persen, kemiskinan di kota justru mengalami kenaikan tipis dari 6,73 persen pada Maret 2025 menjadi 6,60 persen di bulan September.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin di Indonesia per September 2025 mencapai 23,36 juta orang. Angka ini berkurang sebanyak 0,49 juta orang dalam rentang waktu enam bulan sejak Maret 2025.
Namun, tantangan ekonomi kian nyata terlihat dari kenaikan Garis Kemiskinan (GK). BPS mencatat GK per September 2025 berada di level Rp641.443,00 per kapita per bulan. Nilai ini meningkat 5,30 persen dibandingkan Maret 2025.
Jika dilihat dari skala rumah tangga, rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia harus memiliki pendapatan minimal Rp3.053.698,00 per bulan untuk dapat keluar dari kategori miskin.
Komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan dengan kontribusi mencapai 74,67 persen. Beras tetap menjadi faktor paling dominan, menyumbang 21,10 persen di perkotaan dan 24,62 persen di perdesaan.
Selain beras, rokok kretek filter menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap pembentukan garis kemiskinan, yakni sebesar 10,41 persen di perkotaan dan 9,11 persen di perdesaan.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi rokok masih memiliki dampak signifikan terhadap kerentanan ekonomi masyarakat bawah.
Secara geografis, disparitas kemiskinan antar-wilayah masih sangat mencolok. Pulau Jawa menampung jumlah penduduk miskin terbanyak dengan total 12,32 juta orang.
Namun, jika dilihat dari persentase, wilayah Maluku dan Papua mencatatkan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 18,22 persen. Sebaliknya, Pulau Kalimantan menjadi wilayah dengan persentase penduduk miskin terendah sebesar 5,02 persen.
Penurunan angka kemiskinan nasional ini didorong oleh beberapa faktor fundamental ekonomi, di antaranya Pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan III-2025 yang mencapai 5,04 persen (y-on-y), Peningkatan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,90 juta orang sepanjang periode Agustus 2024–Agustus 2025, dan sektor pertanian yang menguat, ditandai dengan kenaikan luas panen padi pada September 2025 sebesar 48,68 persen dibandingkan Februari 2025.
Realisasi bantuan sosial yang mencapai Rp112,7 triliun atau 75,5 persen dari target APBN per September 2025.
BPS juga mencatat perbaikan pada Indeks Kedalaman Kemiskinan yang turun menjadi 1,290 dan Indeks Keparahan Kemiskinan yang turun ke level 0,303.
Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin mulai mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin sendiri semakin mengecil.










