Jayapura, Euforia.id | Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua merilis data terbaru mengenai performa sektor pariwisata di empat provinsi wilayah Papua untuk periode November 2025.
Laporan tersebut menunjukkan dinamika Tingkat Penghunian Kamar (TPK) yang bervariasi di tengah upaya penguatan daya tarik wisata di masing-masing daerah.
Di Provinsi Papua Tengah, TPK hotel bintang tercatat sebesar 39,02 persen, mengalami penurunan tipis 0,81 poin dibandingkan Oktober 2025.
Sebaliknya, hotel non-bintang di wilayah ini justru mencatatkan kenaikan 1,52 poin menjadi 28,10 persen.
Data yang dirilis oleh BPS Papua, Senin (5/01/2026) itu menyebutkan bahwa rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel bintang Papua Tengah mencapai 1,58 hari.
Kondisi berbeda terlihat di Provinsi Papua Selatan, di mana sektor perhotelan mengalami pertumbuhan positif di semua lini. TPK hotel bintang di Papua Selatan melonjak 5,16 poin menjadi 48,15 persen, sementara hotel non-bintang naik 2,13 poin menjadi 34,77 persen.
RLMT hotel bintang di provinsi ini tercatat selama 1,51 hari, sedangkan hotel non-bintang sebesar 1,44 hari.
Sementara itu, Provinsi Papua (Induk) mencatatkan angka okupansi tertinggi untuk hotel bintang dibandingkan wilayah lainnya, yakni mencapai 49,95 persen.
Meskipun begitu, angka ini sejatinya mengalami penurunan sebesar 1,93 poin dari bulan sebelumnya. Untuk hotel non-bintang di Papua, TPK tercatat sebesar 24,71 persen dengan rata-rata lama menginap tamu hotel bintang selama 1,94 hari.
Di sisi lain, Provinsi Papua Pegunungan menunjukkan angka okupansi yang paling rendah. TPK hotel bintang di wilayah ini hanya sebesar 23,26 persen, turun 1,02 poin dari Oktober 2025. Hotel non-bintang di Papua Pegunungan juga mengalami penurunan 2,42 poin menjadi 23,28 persen.
Meski okupansi rendah, RLMT hotel bintang di Papua Pegunungan merupakan yang terlama di antara empat provinsi tersebut, yakni mencapai 2,28 hari.
Secara keseluruhan, BPS menekankan bahwa TPK merupakan indikator penting yang menggambarkan potensi ketersediaan akomodasi di suatu wilayah.
Akomodasi yang memadai menjadi faktor kunci dalam menarik kunjungan wisata selain aspek transportasi dan keberadaan objek wisata itu sendiri.








