Menu

Mode Gelap

Euforia Piala Dunia

Ironi Sang Juara Dunia: Ada Apa dengan Italia?

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Euforia.id | Ada sebuah ironi yang begitu getir saat kita menatap peta sepak bola dunia tahun ini. Italia—pemilik empat bintang di dada, pemegang trofi Euro 2020, dan rumah bagi taktik Catenaccio yang melegenda, telah mencatatkan sejarah kelam yang tak terbayangkan sebelumnya. Mereka absen di tiga edisi Piala Dunia berturut-turut (2018, 2022, dan 2026).

Bagaimana mungkin raksasa yang pernah empat kali merajai sepak bola bisa tersungkur di hadapan tim-tim semenjana di babak kualifikasi?

​Kegagalan menuju 2022 dan 2026 terasa lebih menyakitkan karena sempat ada secercah harapan di musim panas 2021. Roberto Mancini membangun tim yang memainkan sepak bola progresif, jauh dari pakem pragmatis Italia yang kaku.

​Namun, lewat kacamata analitis, gelar Euro tersebut hanyalah “anomali statistik”. Italia menang karena kolektivitas dan momentum singkat, bukan karena fondasi liga atau sistem pembinaan yang sehat.

Saat euforia mereda, penyakit lama kembali kambuh: ketidakmampuan mencetak gol dan ketergantungan pada bek-bek veteran yang mulai dimakan usia.

​Italia kehilangan taji. Sejak era Christian Vieri, Luca Toni, hingga Pippo Inzaghi berakhir, Gli Azzurri tidak lagi memiliki bomber yang ditakuti dunia.

Nama-nama seperti Ciro Immobile atau Mateo Retegui gagal mereplikasi ketajaman mereka di level klub saat mengenakan seragam biru.

Serie A kini dipenuhi talenta impor. Penyerang muda lokal jarang mendapatkan panggung utama di klub-klub besar seperti Juventus, AC Milan, atau Inter Milan, sehingga mereka kekurangan “jam terbang” di pertandingan bertekanan tinggi.

​Dunia telah berubah, tapi Italia masih terjebak dalam romantisme masa lalu. Di saat negara lain seperti Prancis dan Inggris mengintegrasikan kecepatan atletis dengan teknik modern, Italia terlihat lamban dan mudah ditebak dalam transisi.

​Jika kita melihat ke Jerman (2000-an) atau Spanyol (akhir 90-an), mereka melakukan perombakan total pada sistem akademi saat gagal. Di Italia? Birokrasi dan egoisme klub menghambat kemajuan.

Stadion-stadion di Italia rata-rata sudah usang, pendapatan hak siar tertinggal jauh dari Premier League, dan investasi pada pemain muda lokal kerap dianggap sebagai risiko finansial, bukan aset masa depan.

Sepak bola Italia sedang berada di titik nadir. Absen selama 12 tahun (2014-2026) dari panggung terbesar jagat raya adalah tamparan keras bagi FIGC (Federasi Sepak Bola Italia).

​Italia butuh revolusi struktural, mulai dari regulasi pemain lokal di Serie A, modernisasi infrastruktur, hingga keberanian untuk melepaskan bayang-bayang kejayaan 2006. Tanpa itu, seragam Azzurri yang sakral itu hanya akan menjadi artefak sejarah di museum, sementara dunia terus berpesta tanpa mereka.

Baca Lainnya

Komplet! 48 Kontestan Piala Dunia Siap Bertarung

1 April 2026 - 13:18 WIB

Kembalinya Sang Runner Up dan Redupnya Tim Dinamit

1 April 2026 - 10:30 WIB

Uzbekistan dan Yordania Ukir Sejarah

6 Juni 2025 - 18:17 WIB

Trending di Euforia Piala Dunia