Menu

Mode Gelap

Papua

Mengintip Masalah Kesehatan di Pesisir Depapre

badge-check


					Tampak pelayanan kesehatan di Distrik Depapre Perbesar

Tampak pelayanan kesehatan di Distrik Depapre

Jayapura, Euforia.id | Masalah kesehatan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar yang menantang di Papua. Di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, misalnya, masyarakat dan pemerintah daerah terus bergulat melawan dua isu kesehatan utama dengan tren yang cukup tinggi, malaria dan risiko stunting pada anak.

Marthen Luther Suwae, Sekretaris Distrik Depapre, mengakui bahwa kendala kesehatan menjadi tantangan utama yang dihadapi Distrik tersebut.

​”Kita di daerah Distrik Depapre ini kan ada delapan kampung. Dari sektor kesehatan sementara ini malaria penyakit yang masih sedikit tinggi trennya. Selain itu, ada juga risiko stunting,” ungkap Marthen.

​Malaria kini menjadi momok yang mengancam kembali kampung-kampung pesisir. Tren peningkatan kasus malaria ini juga masih menghinggapi Kampung Tablasupa, Distrik Depapre.

Sekretaris Kampung, Abraham Oyaitouw ketika ditemui menyebut terjadi lonjakan tak terduga di wilayahnya, bahkan uniknya malaria juga ‘menyerbu’ perkampungan yang berada di pesisir laut.

​”Kita ikuti dari kerja sama dengan Dinas Kesehatan itu, di Tablasupa juga termasuk meningkat untuk penyakit malarianya. Kemarin kita di kampung berlabuh itu kita kira di laut jadi mungkin aman dari malaria. Ternyata di sana juga meningkat malarianya,” kata Oyaitouw.

​Ia menduga, kondisi alam di Tablasupa yang banyak terdapat daerah daratan basah dan hutan hijau menjadi pemicu berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk malaria.

​”Dulu di laut itu kurang nyamuk, tapi sekarang nyamuknya banyak. Kalau di bagian darat ini, mungkin nyamuknya berkembang dari lingkungan dengan adanya rawa dan kali,” ujarnya.

​Berbeda dengan di Kampung Tablanusu, Kampung wisata itu pernah berstatus “Kampung Bebas Malaria” pada tahun 2021. Hal itu disebutkan oleh Kepala Kampung Arikelaus Danya.

​”Waktu itu saya belum jadi kepala kampung, tahun 2021 itu ada program malaria dari dinas kesehatan. Itu sampai ke kampung kita, dan Kampung Tablanusu ditetapkan sebagai kampung bebas malaria,” kata Danya.

​Namun ia tak menampik, malaria masih menjadi penyakit yang sering datang menghampiri warganya seperti di daerah-daerah lain di Papua. Ia menduga, penyebarannya melalui gigitan nyamuk yang menular dari warga yang baru masuk ke Kampung mereka.

​”Kampung ini kan terbuka. Jadi kalau masyarakat atau orang dari luar yang masih menyimpan bibit malaria di tubuhnya, dia masuk kemari, dia tinggal satu minggu, dua minggu, berarti itu bisa tertular dari gigitan nyamuk,” ujarnya.

​Arikelaus Danya menjelaskan bahwa upaya pencegahan membutuhkan pengawasan ketat, yang pada akhirnya terkendala biaya.

“Ada tim siaga malaria atau kader siaga malaria. Namun saya belum tahu persis datanya, belum dapat laporan dari mereka,” katanya.

​Sekretaris Distrik Depapre, Mathias Luther Suwae, mengonfirmasi bahwa penanganan malaria sepenuhnya di bawah koordinasi dinas terkait dan Puskesmas, sementara Distrik fokus pada masalah gizi.

​Selain malaria, stunting menjadi fokus perhatian Pemerintah Distrik Depapre. “Stunting itu ada beberapa kampung yang agak banyak sedikit, Doromena berikut Tablasupa. Kemarin itu ada sekitar 63 anak kalau tidak salah,” ungkap Marthen Luther Suwae.

Pemerintah Distrik, melalui Mathias Luther Suwae, menjelaskan bahwa intervensi utama Distrik berada pada penanganan stunting melalui program perbaikan gizi, yang juga memanfaatkan Dana Otonomi Khusus (Otsus).

​”Iya, kita dari Distrik untuk kesehatannya itu, dia masuk hanya di stunting saja, asupan makanan-makanan bergizi untuk Ibu hamil, Ibu menyusui, bayi,” jelasnya.

​Di Kampung Tablasupa, di mana malaria masih tinggi, risiko stunting juga menunjukkan peningkatan yang mengejutkan. Sekretaris Kampung, Abraham Oyaitouw, terkejut mendapati kasus baru, terutama pada anak usia 6 tahun ke bawah, setelah program gizi berjalan.

“Stunting ini kemarin itu saya pas mertua di rumah juga kader. Jadi, kita ada program dari UNICEF untuk makan bergizi itu, pencegahan stunting. Kita kira itu menurun, ternyata kemarin itu ada penambahan lagi. Penambahan jadi mungkin stuntingnya dia tambah meningkat lagi, begitu,” kata Oyaitouw.

Risiko stunting itu menimbulkan kebingungan besar di kalangan aparat kampung, mengingat Tablasupa adalah wilayah pesisir yang didominasi nelayan dan seharusnya kaya akan asupan protein hewani.

“Itu juga yang bikin kita juga jadi bingung, karena kita tinggal di pinggiran pantai. Kan dari dinas ditegaskan bahwa harus makan ikan supaya dia punya pertumbuhan badan itu bagus. Padahal semua di sini rata-rata kebanyakan nelayan,” ujarnya.

Sayangnya, saat mengonfirmasi perihal masalah kesehatan di Distrik Depapre itu, pihak Puskesmas Depapre dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura tak mau merespons.

Baca Lainnya

Pemprov Papua Dorong Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan Pasca-Audit Kemenkes

28 November 2025 - 00:10 WIB

Sinergitas Pertamina dan Pemprov Papua Pastikan Stok BBM Nataru Aman

27 November 2025 - 21:31 WIB

Pemprov Papua Jamin Stok BBM Aman Jelang Nataru

27 November 2025 - 17:46 WIB

Hadiri Livin’ Fest 2025, Gubernur Fakhiri Minta Pedagang Mama-Mama Papua Dilibatkan

27 November 2025 - 13:31 WIB

Trending di Ekonomi