Jayapura, Euforia.id | Masih pagi-pagi, sekira pukul 09.15 Waktu Indonesia Timur (WIT), petani pinang di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua mulai sibuk memanen buah pinang di atas lahan seluas 3 hektare.
Ada 8 petani pinang sedang berbagi tugas, ada yang bertugas membawa galah buah, ada memungut buah, memikul, dan memilih buah yang siap dijual.

Tampak hamparan perkebunan sawit yang berada di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 November 2025 / Erianto
Senyum kerap terpancar dari para petani itu. Seolah menceritakan hasil panen yang memuaskan. Tak ada keluh, para petani terlihat begitu semangat dalam menjalankan tugas masing-masing.

Salah satu petani pinang saat melakukan panen, di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 9 Oktober 2025. / Erianto
Proses memetik buah pinang mereka selesaikan sekira pukul 14.00 WIT. Buah kemudian dikumpulkan menjadi satu tempat kemudian dilanjutkan dengan memilah buah terbaik.

Proses panen pinang dilakukan oleh petani di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 9 Oktober 2025. / Erianto
Dari 5 hektar, terkumpul 12 karung pinang. Dimana setiap karung memiliki berat 50 kg. Satu kg dihargai dengan 35 ribu. Artinya sekali panen bisa mendatangkan keuntungan hingga 21 juta. Panen dilakukan 3 kali dalam satu bulan.

Petani saat memilih buah pinang yang unggul, di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. / Erianto
Petani pinang, Lakuhe mengaku produktivitas pohon pinang mereka berkat sentuhan Pupuk Indonesia. Meski berada di ujung timur Indonesia, mereka juga merasakan dampak dari pupuk subsidi lewat kelompok tani.

Petani saat memilih buah pinang yang unggul, di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. Terlihat karung bekas dari Pupuk Indonesia / Erianto
Lakuhe mengaku ia rutin memberikan pupuk terhadap tanamannya untuk menghasilkan buah yang lebat dan berkualitas.
“Saya pupuk setiap bulan, kalau tidak dipupuk buahnya kecil dan tidak banyak. Beda kalau torang pupuk hasilnya sangat banyak. Kita juga terbantu dengan adanya pupuk subsidi,” ungkap Lakuhe, Selasa (30/12).

Petani saat memilih buah pinang yang unggul, di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. Terlihat karung bekas dari Pupuk Indonesia / Erianto
Lakuhe merupakan salah satu dari ratusan petani pinang di Kota Jayapura. Kota Jayapura merupakan daerah yang memiliki pohon pinang terbanyak di Tanah Papua. Tak heran jika Kota Jayapura juga dijuluki sebagai Kota Seribu Pinang.
Bagi masyarakat di luar Papua, buah pinang mungkin hanya dianggap sebagai komoditas perkebunan biasa atau bahan obat tradisional. Namun, di tanah Papua, pinang adalah napas kehidupan.

Petani saat menimbang buah pinang di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. Terlihat karung bekas dari Pupuk Indonesia / Erianto
Pinang adalah simbol persaudaraan, mata uang sosial, sekaligus identitas yang melekat erat dalam keseharian masyarakatnya, dari pesisir hingga pegunungan tengah.

Petani saat membawa pinang dari kebun di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. Terlihat karung bekas dari Pupuk Indonesia / Erianto
Dalam berbagai urusan diplomasi adat, pinang sering kali menjadi “pelicin” sebelum pembicaraan serius dimulai.
Bagi warga lokal, mengunyah pinang memberikan efek penyegaran tubuh, meningkatkan fokus, dan dipercaya secara turun-temurun dapat memperkuat gigi.

Petani saat mengangkut buah pinang dengan menggunakan sepeda motor di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. Terlihat karung bekas dari Pupuk Indonesia / Erianto
Secara ekonomi, pinang adalah penyelamat dapur bagi ribuan keluarga. Di sepanjang trotoar kota hingga pasar-pasar tradisional, di Kota Jayapura, pemandangan “Mama-Mama” (sebutan hormat untuk perempuan Papua) yang duduk di balik tumpukan pinang adalah pemandangan yang ikonik.
Dagangan ini digelar di atas meja kayu kecil yang disebut para-para pinang. Penjualan pinang sering kali menjadi sumber pendapatan utama untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anak hingga kebutuhan adat.

Buah pinang siap dijual di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, 29 Desember 2025. Terlihat karung bekas dari Pupuk Indonesia / Erianto
Pinang adalah komoditas yang tidak pernah mati. permintaannya selalu ada setiap hari, dari pagi hingga larut malam.
Pinang bagi orang Papua bukan sekadar buah, melainkan identitas kolektif. Ia adalah perekat sosial yang melintasi batas suku dan status. Selama warna merah masih menghiasi bibir masyarakatnya, maka semangat kebersamaan dan kekeluargaan di tanah Papua akan terus terjaga.














