Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Tren Kenaikan Harga Emas dan Pangan Picu Inflasi di Wilayah Papua Akhir 2025

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Jayapura, Euforia.id | Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kondisi ekonomi di seluruh wilayah provinsi Papua tetap stabil hingga akhir tahun 2025. Berdasarkan berita resmi statistik yang dirilis pada 5 Januari 2026, menunjukkan tren kenaikan harga yang merata di seluruh wilayah Papua pada penutupan tahun 2025.

​Di Provinsi Papua, inflasi tahunan pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,54 persen. Kenaikan harga yang paling mencolok terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 14,95 persen.

Komoditas utama yang memicu kenaikan ini adalah emas perhiasan, disusul oleh kenaikan harga pangan seperti ikan tuna, beras, daging ayam ras, dan cabai rawit.

​”Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di Papua antara lain emas perhiasan, ikan tuna, beras, dan daging ayam ras,” tulis laporan BPS Papua.

Meski begitu, masyarakat sedikit terbantu dengan penurunan harga pada kelompok pakaian, alas kaki, serta peralatan rumah tangga yang mengalami deflasi.

​Sementara itu, Provinsi Papua Selatan mencatatkan inflasi yang sedikit lebih tinggi, yakni 2,95 persen.

Serupa dengan provinsi induknya, kelompok perawatan pribadi (emas perhiasan) menjadi motor utama inflasi dengan kenaikan 14,81 persen. Namun, kenaikan tarif angkutan udara juga menjadi penyumbang signifikan bagi inflasi di wilayah ini.

​Untuk sektor pangan di Papua Selatan, beras, daging ayam ras, dan rokok (Sigaret Kretek Mesin) menjadi penyumbang inflasi terbesar.

Di sisi lain, harga udang basah, bawang putih, dan minyak goreng justru mengalami penurunan harga (deflasi), yang membantu menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

​Secara bulanan (month to month), Papua mengalami kenaikan harga sebesar 1,77 persen yang didorong oleh tingginya tarif angkutan udara dan harga ikan selama masa libur akhir tahun. Sedangkan Papua Selatan mencatatkan inflasi bulanan yang lebih rendah, yakni 0,81 persen.

​Pemerintah daerah diharapkan terus memantau pergerakan harga komoditas pangan dan transportasi udara guna memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga di awal tahun 2026.

Sementara, Provinsi Papua Tengah mencatatkan inflasi tahunan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya, yakni sebesar 3,28 persen.

Lonjakan ini sangat terasa di Kabupaten Nabire yang menyentuh angka 5,81 persen, sementara Timika jauh lebih rendah di angka 2,03 persen. Kelompok perawatan pribadi, termasuk emas perhiasan, di provinsi ini melonjak hingga 16,77 persen.

Berbeda dengan wilayah lain, inflasi di Provinsi Papua Pegunungan yang tercatat sebesar 3,22 persen sangat dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 6,76 persen.

Komoditas seperti bayam, beras, sawi putih, dan daging babi menjadi penyumbang andil inflasi terbesar di wilayah pegunungan ini. Menariknya, tarif angkutan udara di wilayah ini justru memberikan andil deflasi atau penurunan harga secara tahunan.

Baca Lainnya

Trafik Data Indosat Melonjak 20 Persen di Tahun Baru, Teknologi AI Jamin Jaringan Tetap Stabil

7 Januari 2026 - 09:39 WIB

Pemprov Papua Serahkan 7 Raperdasi ke DPR

6 Januari 2026 - 22:51 WIB

Lintasarta Perkuat Kolaborasi dengan Starlink untuk Pemerataan Akses Digital

6 Januari 2026 - 13:22 WIB

Dinamika Pariwisata Papua November 2025: Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bintang Capai 49,95 Persen

6 Januari 2026 - 09:53 WIB

Trending di Ekonomi