Jayapura, Euforia.id | Inisiator dan penggagas utama Festival Colo Sagu, Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen menyebutkan kawasan hutan di Papua kian menyusut.
Ia mengungkapkan hal tersebut pada pembukaan Festival Colo Sagu 2026 yang berlangsung di parkiran DPR Papua, Jumat (19/6/2026).
Sebagai penggagas utama program Colo Sagu, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penurunan luas lahan serta minimnya kepedulian masyarakat lokal untuk mengelola potensi tersebut.
”Berdasarkan data dan diskusi dengan Kepala Dinas, dari semula satu juta hektar lahan sagu, saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 700 ribu hektar. Ini menjadi tantangan besar. Tuhan sudah memberikan sagu yang melimpah, tugas kita adalah berhikmat untuk mentransformasikannya menjadi nilai ekonomi,” ujar Kombes Pol Fredrickus dalam sambutannya.
Fredrickus juga menyoroti ironi minimnya minat generasi muda Papua terhadap komoditas ini. Ia memaparkan bahwa dalam kompetisi esai atau makalah ilmiah tentang sagu tingkat mahasiswa yang digelar dalam rangkaian festival, justru 80 persen pesertanya berasal dari luar Papua, dan pemenangnya pun didominasi oleh kampus-kampus dari luar wilayah Papua.
Melalui gerakan Colo Sagu ini, Kapolresta mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua untuk segera merumuskan regulasi konkret demi menyelamatkan komoditas lokal tersebut.
“Besar harapan kami, paling tidak ada sebuah regulasi yang berbicara tentang sagu agar bisa beriringan memenuhi kebutuhan pangan kita dan tidak punah di masa depan,” tegasnya.
Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Papua berkomitmen penuh untuk mengawal gagasan itu melalui penguatan ekosistem sagu dari hulu ke hilir.
Langkah itu mencakup perlindungan hukum terhadap kawasan hutan sagu, pemberdayaan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat, serta hilirisasi produk turunan sagu agar memiliki nilai jual tinggi.
”Ketergantungan terhadap pangan dari luar harus mulai diimbangi dengan penguatan pangan lokal. Menjaga sagu berarti menjaga kehidupan, identitas, dan masa depan Papua. Kita butuh kolaborasi kuat antara pemerintah, akademisi, lembaga adat, dan dunia usaha untuk mewujudkan hal ini,” pungkas Gubernur.
















Komentar ditutup.