Euforia.id | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah meredanya ketidakpastian global.
Hal itu dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 yang berhasil mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), mencatatkan rekor pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak tahun 2014.
Laporan tersebut disampaikan Menkeu dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI pada Selasa, 7 Juli 2026, saat memaparkan Laporan Pelaksanaan APBN Semester I dan Prognosis Semester II Tahun Anggaran 2026.
Selain pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, inflasi per Juni 2026 juga dilaporkan tetap terkendali pada level 3,34 persen. Kondisi positif ini turut ditopang oleh pertumbuhan kredit, likuiditas yang terjaga, kembalinya aliran modal asing, serta posisi cadangan devisa yang kuat.
”APBN 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mendukung agenda prioritas pembangunan nasional dengan tetap menjaga tata kelola keuangan yang sehat, kredibel, dan akuntabel,” ujar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Hingga Semester I tahun 2026, realisasi pendapatan negara telah mencapai Rp1.459,4 triliun atau sekitar 46,3 persen dari target APBN. Angka ini melonjak signifikan sebesar 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian impresif tersebut bersumber dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271,0 triliun, yang didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi serta penguatan tata kelola perpajakan.
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga pertengahan tahun ini tercatat sebesar Rp1.656,0 triliun, atau 43,1 persen dari pagu anggaran, tumbuh 17,8 persen dibandingkan Semester I tahun lalu.
Anggaran tersebut dialokasikan untuk mendanai delapan agenda prioritas nasional, termasuk ketahanan pangan dan energi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan mutu pendidikan, layanan kesehatan, pembangunan desa, pemberdayaan UMKM, sistem pertahanan semesta, serta percepatan investasi.
Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, defisit APBN hingga Semester I tahun 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menkeu menegaskan angka defisit ini masih berada dalam batas yang sangat aman.
Menkeu juga menambahkan bahwa dalam situasi gejolak geopolitik, APBN memainkan peran strategis sebagai peredam kejut (shock absorber) untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjadi instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata.
Hingga akhir tahun 2026, pendapatan negara diproyeksikan melampaui target hingga mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen, sementara belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun. Dengan perhitungan tersebut, outlook defisit APBN hingga akhir tahun diestimasi sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga kesehatan fiskal ini demi mendukung keberlanjutan program prioritas, seperti Revitalisasi Sekolah, Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih, melalui sinergi belanja pusat dan daerah yang lebih harmonis.
”APBN 2026 dijaga tetap sehat dan berkesinambungan, dengan pembiayaan anggaran yang efisien, defisit terkendali dalam batas aman sebesar 2,85 persen PDB untuk menjaga kredibilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” pungkas Menkeu.














Komentar ditutup.