Jayapura, Euforia.id | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meralat informasi terkait fenomena kabut yang menyelimuti wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura sejak 8 Oktober 2026.
Sempat diduga akibat kelembapan suhu yang tinggi dan dinginnya permukaan, BMKG kini memastikan kabut tersebut merupakan asap kiriman dari Papua Selatan dan Papua Nugini.
Kepastian ini dikeluarkan setelah BMKG melakukan analisis lanjutan secara komprehensif terhadap berbagai instrumen pengamatan cuaca, kualitas udara, hingga citra satelit.
”Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kekaburan udara yang terjadi di wilayah Jayapura merupakan kabut asap tipis yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah di Papua serta Papua Nugini,” demikian keterangan resmi BMKG.
Dalam analisisnya, BMKG menemukan bahwa tingkat kelembapan relatif di Jayapura pada pagi hingga sore hari umumnya berada di bawah 90 persen, yang menandakan dominasi partikulat kering atau smoke dan haze.
Kondisi ini diperkuat oleh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jayapura pada 10 hingga 12 Oktober 2026 yang berada pada kategori sedang, dengan konsentrasi partikel mikro PM 2.5 berkisar antara 66 sampai 73.
Pemodelan CAMS/ECMWF milik BMKG menunjukkan, massa partikulat hasil pembakaran bahan organik dari wilayah utara Papua Nugini terbawa angin dari tenggara menuju barat-barat laut ke arah Jayapura.
Sementara itu, pantauan satelit NASA juga mendeteksi sebaran asap dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Adapun kontribusi asap dari Merauke dan titik panas lokal dinilai relatif kecil karena tidak didukung arah angin dan citra satelit Himawari-9.
Durasi kabut asap yang bertahan lama di udara Jayapura turut dipengaruhi oleh fenomena inversi subsidensi. Berdasarkan pengamatan Radiosonde pada 10 Oktober lalu, tercatat adanya lapisan stabil di ketinggian sekitar 6,0 dan 6,6 kilometer dari permukaan tanah.
Lapisan tersebut menahan pergerakan udara ke atas, sehingga partikel asap dan polutan terperangkap di dekat permukaan.
Mengingat kondisi udara tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker, menghindari pembakaran terbuka, serta menutup pintu dan jendela rumah. Warga yang mengalami sesak napas, khususnya penderita gangguan pernapasan, juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

















Komentar ditutup.