Euforia.id | Sepak bola selalu punya cara sendiri untuk memutar ulang memorinya. Jelang pertemuan Meksiko dan Afrika Selatan di rumput Stadion Azteca, Meksiko City, Jumat (12/6/2026) dini hari nanti, publik seperti ditarik kembali ke atmosfer Johannesburg, Afrika Selatan 16 tahun silam.
Piala Dunia 2010 dibuka dengan duel yang sama. Saat itu, Afrika Selatan menahan imbang Meksiko 1-1 lewat sepakan roket Siphiwe Tshabalala yang juga ikonik dengan selebrasinya, sebelum disamakan oleh sontekan Rafael Márquez di menit-menit akhir.
Kini, ruang dan waktu bergeser ke Mexico City, dengan duel kedua tim yang sama.
Catatan arsip menunjukkan bahwa sejarah yang berulang di laga pembuka seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Dan Meksiko hampir selalu punya kisah di dalamnya.
Jauh ke belakang, di Italia pada 1934, ketika turnamen masih memakai sistem gugur langsung, seluruh 16 tim bertanding serentak pada hari dan jam yang sama. Model pembukaan massal ini terus bertahan hingga edisi 1962 di Chili.
Lanskap jadwal yang longgar di paruh pertama abad ke-20 inilah yang membuka lebar peluang terjadinya laga ulang di awal turnamen. Efeknya, Brasil dan Meksiko tercatat sampai tiga kali saling baku hantam di laga pembuka hanya dalam kurun waktu empat edisi turnamen antara tahun 1950 hingga 1962.
Dalam sejarah laga perdana yang berulang tersebut, Meksiko membawa rekam jejak yang kelam setiap kali berhadapan dengan Brasil. Tiga kali bertemu di laga pertama, tiga kali pula gawang mereka dibombardir tanpa bisa membalas satu gol pun.
Pada edisi 1950 yang menjadi laga pembuka tunggal di Maracana, Brasil menang telak empat gol tanpa balas. Empat tahun berselang di Swis, dalam format laga yang dimainkan bersamaan, gawang Meksiko kembali dikoyak lima gol oleh generasi emas Didi dan Julinho.
Puncaknya terjadi di Chili pada 1962, yang menjadi laga pembuka serentak terakhir dalam sejarah, di mana Brasil menang 2-0 lewat gol Mario Zagallo dan aksi individu legendaris dari Pelé.
Peluang dejavu ini hampir terjadi lagi pada edisi 2014 ketika Brasil menjadi tuan rumah dan Meksiko berada di grup yang sama. Namun, kalkulasi komputer jadwal modern mengubah jalannya cerita. Brasil dipertemukan dengan Kroasia di laga pembuka, dan baru bertemu Meksiko di pertandingan kedua.
Anomali dan pengulangan sejarah di Piala Dunia pria ini kontras dengan apa yang terjadi di Piala Dunia Wanita. Sejak pertama kali bergulir di Tiongkok pada 1991, turnamen wanita sangat disiplin dengan pakem laga pembuka tunggal.
Dalam sejarahnya yang berjalan lebih dari tiga dekade, belum pernah sekalipun ada dua tim yang bertemu dua kali di laga pertama.















