Euforia.id | Kehilangan pekerjaan sering kali menjadi titik nadir bagi banyak orang. Di tengah bayang-bayang hilangnya pendapatan, para korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dipaksa memutar otak demi menyambung hidup.
Berdagang kecil-kecilan kerap menjadi pilihan, namun tembok besar bernama keterbatasan modal dan minimnya pengalaman sering kali meruntuhkan harapan mereka.
Pahitnya realita ini sempat dirasakan langsung oleh Rahmadi (30). Sebagai seorang duda yang menjadi tulang punggung keluarga, ia sempat terpuruk usai menjadi korban PHK. Di tengah sempitnya lapangan kerja dan tuntutan dapur yang harus mengepul, secercah harapan muncul saat ia bergabung dengan Program UMiMAX (Ultra Mikro Pertamina Aksi).
Melalui dukungan fasilitas dan modal usaha, Rahmadi nekat membuka warung kopi (warkop). Perlahan tapi pasti, roda nasibnya berputar. Warkop yang dirintisnya kini berkembang pesat dan sukses meraup omzet hingga Rp1,9 juta per minggu.
”Alhamdulillah, setelah ikut Program UMiMAX saya memiliki penghasilan yang lebih stabil untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan bisa menjalani hidup dengan lebih tenang,” ujar Rahmadi.
Kisah bangkit dari keterpurukan juga datang dari Wiwik Utami (49). Sejak suaminya terkena PHK hampir dua tahun lalu, keluarganya sempat tertatih-tatih dan hanya mengandalkan pendapatan sang suami sebagai pengemudi ojek online.
Lewat program UMiMAX, Wiwik mencoba peruntungan dengan membuka usaha Warmindo. Meski awalnya tertatih dengan pendapatan kurang dari Rp50 ribu per hari, konsistensinya membuahkan hasil seiring bertambahnya pelanggan. Kini, Wiwik mampu mengantongi keuntungan bersih Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per minggu.
”Yang paling saya syukuri bukan hanya tambahan penghasilannya, tetapi karena sekarang saya bisa ikut membantu keluarga dan tidak lagi selalu bergantung pada anak,” ungkap Wiwik haru.
Bantalan Ekonomi Masyarakat Rentan
Dua kisah sukses di atas merupakan potret nyata dari misi yang diusung PT Pertamina (Persero) melalui program UMiMAX. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan bahwa program ini dihadirkan sebagai bentuk kepedulian nyata untuk mendongkrak ekonomi masyarakat yang rentan.
Sebagian besar peserta program ini memang menyasar kelompok yang paling terdampak secara ekonomi, mulai dari korban PHK, pekerja informal, guru kontrak, hingga masyarakat prasejahtera.
”Dari sisi profil peserta, sekitar 75 persen mitra UMiMAX merupakan korban PHK, sedangkan sisanya masyarakat dengan kondisi ekonomi lemah. Program ini menjadi komitmen Pertamina untuk mendorong perekonomian masyarakat melalui hibah sarana usaha, pelatihan dan pendampingan usaha,” papar Baron.
Baron menegaskan, UMiMAX tidak sekadar memberikan bantuan modal cuma-cuma, melainkan sebuah paket lengkap pemberdayaan agar pelaku usaha ultra mikro bisa naik kelas.
”Program ini lahir untuk membangkitkan energi kelompok masyarakat rentang ekonomi untuk bangkit dengan membangun atau mengembangkan usaha ultra mikro. Program ini tidak hanya memberikan bantuan sarana usaha, tetapi juga pendampingan, pelatihan, serta penguatan kapasitas usaha agar penerima manfaat dapat membangun sumber penghasilan yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” kata Baron.
Cetak Perputaran Uang Miliaran Rupiah
Komitmen Pertamina dalam mengawal para pelaku usaha ultra mikro ini terbukti membuahkan angka yang fantastis. Berdasarkan data internal Pertamina, para peserta program kini mampu mencatatkan rata-rata omzet bulanan di angka Rp30 juta, dengan beberapa di antaranya mengantongi laba bersih di atas Rp10 juta per bulan.
Secara akumulatif, performa bisnis para mantan pekerja yang beralih menjadi pengusaha ini sangat menjanjikan. Sepanjang periode Januari hingga April 2026, total pendapatan seluruh peserta UMiMAX sukses menembus Rp2,75 miliar, dengan torehan laba bersih mencapai Rp858 juta.
Melihat dampak masif yang dihasilkan, Pertamina memberi sinyal kuat untuk terus memperluas jangkauan program pemulihan ekonomi ini ke depannya.
”Dampak positif ini mendorong kami untuk lebih mengembangkan program UMiMAX,” pungkas Baron.

















Komentar ditutup.