Euforia.id | Ada aroma sejarah yang sangat pekat menjelang laga puncak Piala Dunia 2026. Akhir pekan nanti bukan hanya menjadi panggung bagi dua kutub sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina. Lebih dari itu, laga ini adalah duel kejeniusan dua arsitek yang sedang berdiri di ambang pintu sejarah, Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni.
Takdir seolah mempertemukan Argentina vs Spanyol di puncak tertinggi Piala Dunia, pasca batalnya laga penguasa dua benua, finalissima yang sedianya akan digelar pada 27 Maret 2026 di Lusail, Qatar, menyusul adanya konflik bersenjata di timur tengah.
Sang mentor kepelatihan asal Basque, Luis De La Fuente, akan menantang mantan murid kelas lisensinya yang kini telah menjelma menjadi salah satu pelatih tersukses di belahan bumi selatan, Lionel Scaloni.
Siapa pun yang keluar sebagai pemenang di laga ini, akan menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah sepak bola dunia
De la Fuente dan Gelar Sempurna
Ketika Luis de la Fuente ditunjuk menggantikan Luis Enrique pasca-kegagalan Spanyol di Qatar 2022, publik Madrid dan Barcelona meresponsnya dengan skeptis. Ia dianggap sebagai “pelatih pegawai negeri”—pria paruh baya yang menghabiskan satu dekade di lorong-lorong sunyi Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) mengasuh tim junior, tanpa magis kebintangan.
Namun, De la Fuente menjawab keraguan itu dengan sebuah revolusi. Ia membuang jauh-jauh dogma tiki-taka yang membosankan dan menggantinya dengan sepak bola vertikal yang bertenaga. Hasilnya cukup mengejutkan.
Di bawah kepemimpinannya, La Furia Roja meraih kesuksesan di kelompok umur. Prestasinya berlanjut dengan menyapu bersih trofi UEFA Nations League 2023, menaklukkan Eropa di Euro 2024, dan sempat finis sebagai finalis di Nations League 2025.
Kini, trofi emas Piala Dunia berada di depan mata. Jika berhasil membungkam Argentina, De la Fuente akan menahbiskan dirinya sebagai pelatih Eropa pertama dalam sejarah yang mampu mengawinkan gelar Piala Eropa, UEFA Nations League, dan Piala Dunia dalam satu siklus kepelatihan.
Di tangan De la Fuente pula, Spanyol melangkah ke final 2026 dengan catatan fantastis, mereka baru kebobolan satu gol dan belum pernah sekalipun berada dalam posisi tertinggal sepanjang turnamen.
Scaloni dan Rekor 88 Tahun
Beralih ke Argentina, Lionel Scaloni datang ke New York dengan beban sejarah yang jauh lebih berat di pundaknya. Pelatih berusia 48 tahun ini tidak hanya sedang memimpin Argentina mempertahankan takhtanya, tetapi ia juga sedang berlari mengejar bayang-bayang legenda masa lalu.
Jika Argentina berhasil menang, Scaloni akan menyejajarkan namanya dengan Vittorio Pozzo, pelatih legendaris Italia yang membawa negaranya juara dunia back-to-back pada edisi 1934 dan 1938.
Sejak Pozzo melakukannya 88 tahun lalu, tidak ada satu pun pelatih di dunia, bahkan sekaliber Mario Zagallo, Carlos Bilardo, hingga Franz Beckenbauer, yang mampu mempertahankan trofi Piala Dunia secara beruntun.
Scaloni juga akan mencatatkan diri sebagai pelatih pertama dari benua Amerika yang melakukan pencapaian luar biasa itu.
Meski sempat tertatih di awal turnamen dan harus melewati drama adu penalti yang menguras emosi saat melawan Inggris di fase gugur, Argentina asuhan Scaloni membuktikan bahwa mereka memiliki mentalitas petarung yang tidak dimiliki tim lain.
Ditopang sisa-sisa magis Lionel Messi yang telah mengemas delapan gol di turnamen ini, Argentina asuhan Scaloni adalah perpaduan antara seni bertahan yang solid dan serangan balik yang mematikan.
Pertempuran Guru dan Murid
Pada musim gugur November 2017, di kompleks latihan Las Rozas, Madrid, sekelompok mantan pemain profesional Spanyol dan Amerika Latin berkumpul untuk mengambil kursus kepelatihan UEFA Pro.
Lionel Scaloni yang baru saja gantung sepatu ada di antara rombongan siswa kursus kepelatihan itu. Dan salah satu instruktur yang berdiri di depan kelas, memberikan materi taktik pertahanan dan transisi bermain, adalah Luis de la Fuente.
Kini, sang murid akan menguji keahliannya di depan sang mentor di panggung yang tak mereka duga, final Piala Dunia.
Akhir pekan nanti, MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, akan menjadi saksi. Apakah sang guru, Luis de la Fuente, yang akan menyempurnakan mahkota juaranya? Atau sang murid, Lionel Scaloni, yang akan menyamai rekor hampir satu abad demi mengunci statusnya sebagai salah satu pelatih teragung dalam sejarah sepak bola modern?















Komentar ditutup.