Jayapura, Euforia.id | Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Provinsi Papua terus berupaya mengoptimalkan pengelolaan sejumlah venue peninggalan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX agar mampu mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kepala Disorda Papua, Laorens Wantik, menjelaskan bangunan-bangunan eks-PON dibangun dengan standar tinggi, termasuk kelistrikan dan fasilitas pendukung, yang berkonsekuensi pada tingginya biaya pemeliharaan.
Setelah lima tahun berjalan, keterbatasan anggaran membuat sebagian fasilitas mengalami kendala perawatan.
Adapun sejumlah venue peninggalan PON yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Papua meliputi Venue Hoki dan Kriket Doyo, Kawasan Kampung Harapan yang mencakup Istora, wisma menembak, Stadion Utama Lukas Enembe, serta venue akuatik.
Lalu ada GOR cenderawasih APO, wisma Atlet Mandala dan Lapangan Mandala di Kota Jayapura.
”Saat ini kami sedang melakukan upaya agar venue dan fasilitas lainnya bisa produktif, sehingga sebagian hasilnya dapat membiayai perawatan secara mandiri, sementara sisanya disetor ke Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujar Laorens Wantik.
Untuk memaksimalkan fungsi tersebut, Disorda Papua telah membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sarana Prasarana Olahraga.
UPTD ini bertugas secara terpusat untuk mengurus pemeliharaan sekaligus pemanfaatan fasilitas olahraga agar lebih terarah.
Ke depannya, pengelolaan seluruh venue peninggalan PON diproyeksikan untuk bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Dengan status tersebut, pengelola diharapkan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengatur keuangan mandiri guna menunjang perawatan jangka panjang serta mendukung pembinaan prestasi olahraga dan kepemudaan di Provinsi Papua.

















Komentar ditutup.