Jayapura, Euforia.id | Indonesia Art Movement menggelar program perdana bertajuk “Difabelove” dengan mengusung tema “Ruang Kreasi Seni Inklusif di Kota Jayapura”. Kegiatan ini menghadirkan edukasi pendidikan inklusi serta membuka ruang kreatif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas.
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr. Setyo Yanuartuti bersama Ika Anggun Camelia.
Kehadiran para akademisi ini bertujuan untuk membagikan pengetahuan mendalam mengenai pentingnya pendidikan inklusi dan pembelajaran seni rupa bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dr. Setyo Yanuartuti dalam pemaparannya menyoroti bahwa kesadaran terhadap pendidikan inklusi di Papua masih memerlukan perhatian besar, terutama dari kalangan orang tua.
Menurutnya, masih ada orang tua yang memilih menyembunyikan anak difabel karena kurangnya pemahaman. Padahal, pendidikan merupakan hak bagi setiap anak, dan banyak penyandang disabilitas yang justru menyimpan talenta luar biasa, khususnya di bidang seni.
”Harapannya melalui kegiatan ‘Difabelove’ ini, kita dapat membangun motivasi diri serta kebanggaan bagi anak-anak difabel agar mereka merasa berharga dan memiliki kemampuan yang luar biasa,” ujar Setyo.
Program “Difabelove” terselenggara berkat kolaborasi erat dengan berbagai pihak, di antaranya SLB Negeri 1 Kota Jayapura, Komunitas Tuli Jayapura, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Fisik Indonesia (PPDFI) Papua, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, serta berbagai komunitas seniman, juru bahasa isyarat, dan relawan pemerhati pendidikan inklusif.
















Komentar ditutup.