Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Euforia Piala Dunia

Fenomena One Hit Wonder Para Underdog di Piala Dunia

badge-check

Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Euforia.id | Kejutan Singa Skandinavia Norwegia telah berakhir di babak perempat final Piala Dunia 2026, usai dikalahkan Inggris. Namun pencapaian menembus delapan besar adalah sejarah baru dan prestasi tertinggi bagi timnas Norwegia, setelah 28 tahun absen dari panggung tertinggi.

​Kegemilangan Norwegia itu membawa ingatan publik pada kisah-kisah keajaiban yang pernah dibuat oleh sejumlah tim underdog. Ada beberapa negara yang pernah tampil mengejutkan di ajang Piala Dunia dengan mencetak sejarah lolos ke perempat final bahkan semifinal untuk kali pertama.

Tim-tim non unggulan selalu punya ruang untuk menciptakan kejutan besar di pentas Piala Dunia. Sebuah kulminasi, atau puncak tertinggi yang mempertemukan talenta terbaik sebuah negara dalam satu waktu, atau generasi emas.

Sayangnya, kisah-kisah keajaiban itu hanya menjadi fenomena one-hit wonder. Mereka hanya bisa mencapainya sekali, dan sulit untuk mengulangnya kembali.

Ilustrasi

Wales (1958): Kejutan Britania yang Terpendam Setengah Abad

​Piala Dunia 1958 di Swedia menjadi panggung terbaik bagi negara-negara Britania Raya, dengan meloloskan empat wakilnya.

Wales menjadi tim yang paling mengejutkan dunia ketika itu. Mengandalkan penyerang legendaris John Charles, Wales berhasil lolos dari fase grup setelah melewati laga play-off yang sengit melawan Hungaria.

​Perjalanan mereka terhenti di babak perempat final setelah dikalahkan Brasil dengan skor tipis 0-1, lewat gol pertama seorang remaja berusia 17 tahun bernama Pelé.

Setelah pencapaian tertinggi itu, Wales langsung menghilang dari panggung Piala Dunia. Mereka harus menunggu selama 64 tahun untuk bisa kembali lolos ke Piala Dunia pada edisi 2022, di mana mereka langsung tersingkir di fase grup.

​Irlandia Utara (1958): Dongeng Penakluk Raksasa

​Masih pada edisi yang sama di Swedia 1958, Irlandia Utara mengukir kisah ajaibnya sendiri. Datang sebagai tim yang tidak diperhitungkan, mereka secara luar biasa berhasil menyingkirkan Italia di babak kualifikasi, lalu menumbangkan Cekoslowakia di fase grup untuk melaju ke babak perempat final.

​Langkah mereka baru terhenti setelah dihajar oleh Prancis dengan skor telak 0-4 di babak delapan besar.

Pencapaian itu menjadi momen legendaris yang sulit diulangi kembali oleh Irlandia Utara. Meski sempat lolos lagi pada tahun 1982 dan 1986, Green & White Army tidak pernah lagi mampu mendekati level performa tertinggi mereka seperti di tahun 1958.

​Chili (1962): Kejayaan yang Terkurung di Rumah Sendiri

​Piala Dunia 1962 menjadi panggung pembuktian bagi Chili yang bertindak sebagai tuan rumah. Konon, dipayungi atmosfer publik sendiri, Chili menampilkan permainan sepak bola yang sangat agresif dan penuh gairah.

Mengandalkan ketajaman penyerang legendaris Leonel Sánchez, Chili berhasil melaju hingga babak semifinal sebelum akhirnya ditumbangkan oleh Brasil yang kemudian keluar sebagai juara.

​La Roja mengamankan tempat ketiga setelah mengalahkan Yugoslavia. Namun, setelah pesta di Santiago itu usai, sepak bola Chili seperti kehilangan arah.

Prestasi tersebut tidak pernah mampu menjadi fondasi jangka panjang. Chili sering kali absen dari putaran final Piala Dunia dalam beberapa dekade berikutnya karena kalah bersaing dengan Brasil, Argentina, dan Uruguay di zona Conmebol.

Bahkan, ketika mereka memiliki generasi emas di era modern yang memenangkan Copa America berturut-turut pada era Alexis Sánchez dan Arturo Vidal, pencapaian tertinggi mereka di Piala Dunia tetap saja mentok di babak 16 besar.

Chili masih gagal kembali ke Piala Dunia dalam tiga kali perhelatan secara beruntun (2018, 2022, 2026).

​Korea Utara (1966): Wakil Asia Mengguncang Dunia

​Salah satu kisah paling misterius sekaligus mengejutkan dalam sejarah sepak bola terjadi pada Piala Dunia 1966 di Inggris.

Korea Utara datang sebagai tim yang sama sekali tidak diperhitungkan dan bahkan tidak diketahui peta kekuatannya oleh tim-tim Eropa.

Namun, di luar dugaan, skuad berjuluk Chollima itu menumbangkan salah satu kiblat sepak bola dunia, Italia, dengan skor 1-0 di fase grup. ​Kemenangan itu membawa mereka ke perempat final menantang Portugal.

Korea Utara bahkan sempat membuat dunia terperangah setelah unggul 3-0 dalam 25 menit pertama, sebelum akhirnya keajaiban itu dipatahkan oleh striker legendaris Eusebio yang mencetak empat gol untuk membalikkan keadaan menjadi 5-3.

​Setelah turnamen di Inggris itu selesai, Korea Utara kembali menutup diri dan sepak bola mereka meredup total.

Faktor isolasi politik dan kurangnya kompetisi internasional berkualitas membuat mereka membutuhkan waktu hingga 44 tahun hanya untuk sekadar bisa lolos kembali ke putaran final Piala Dunia pada tahun 2010, di mana mereka langsung menjadi bulan-bulanan tim lawan.

​Kamerun (1990): Pelopor Kejutan Afrika

​Sebelum tahun 1990, tim-tim dari benua Afrika sering kali dipandang sebelah mata dan dianggap hanya sebagai pelengkap turnamen. Namun, persepsi itu patah ketika tim nasional Kamerun menginjakkan kaki di Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia.

Mereka datang dengan membawa striker ikonik Roger Milla yang kala itu sudah berusia 38 tahun.

Mematahkan prediksi, skuad berjuluk Indomitable Lions itu langsung menghentak dunia sejak laga pembuka dengan menumbangkan juara bertahan Argentina yang diperkuat Diego Maradona.

​Kamerun menampilkan gaya bermain yang sangat mengandalkan fisik, penuh determinasi, dan teknik individu yang menghibur.

Mereka melaju mulus hingga babak perempat final, mencetak sejarah sebagai tim Afrika pertama yang mampu melangkah sejauh itu, sebelum akhirnya disingkirkan oleh Inggris melalui drama perpanjangan waktu yang menegangkan.

​Setelah tahun 1990, sepak bola Kamerun didera konflik internal federasi, masalah transparansi bonus pemain, dan kegagalan total dalam membangun akademi usia muda yang terstruktur.

Akibatnya, dalam setiap edisi Piala Dunia yang mereka ikuti setelahnya, Kamerun selalu menjadi juru kunci atau langsung tersingkir di fase grup tanpa pernah lagi mencicipi fase gugur.

​Republik Irlandia (1990): Sepak Bola Pragmatis Jack Charlton

​Masih di Piala Dunia 1990 di Italia. Republik Irlandia mencuri perhatian dunia lewat gaya bermain yang sangat pragmatis di bawah arahan taktis pelatih Jack Charlton.

Tanpa memenangkan satu pertandingan pun di waktu normal selama fase grup (tiga kali imbang), Irlandia melaju ke babak perempat final dan menyingkirkan Rumania lewat drama adu penalti.

​Langkah sejarah mereka menuju semifinal akhirnya dihentikan oleh sang tuan rumah Italia melalui gol tunggal Salvatore Schillaci.

Pada edisi-edisi berikutnya, Irlandia kesulitan bersaing dan paling maksimal hanya mampu mencapai babak 16 besar sebelum akhirnya absen panjang dari ajang Piala Dunia.

Kini, dua puluh tahun sudah, Republik Irlandia belum berhasil menemukan jalan pulang ke panggung tertinggi sepak bola sejagat.

​Bulgaria (1994): Ketergantungan pada Satu Generasi

​Bulgaria menciptakan sensasi yang mengguncang dunia pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Negara yang sebelumnya tidak pernah memenangkan satu pertandingan pun dalam lima keikutsertaan mereka di Piala Dunia, tiba-tiba melesat tak tertahankan.

Bertumpu pada kejeniusan penyerang kidal yang eksentrik, Hristo Stoichkov, Bulgaria menyingkirkan juara bertahan Jerman dengan skor 2-1 di babak perempat final melalui permainan terbuka yang sangat berani.

Lavovete (si singa) itu mengukir sejarah lolos ke babak semifinal untuk pertama kalinya, meski kemudian kalah oleh Italia.

Bulgaria menyabet predikat juara keempat, mereka gagal di perebutan tempat ketiga menghadapi Swedia.

Meski harus terhenti di babak semifinal, pencapaian Bulgaria itu menjadi kisah menarik yang akan selalu dikenang dalam sejarah perhelatan Piala Dunia.

Mereka tampil dengan generasi emas. Selain Stoichkov, ada Emil Kostadinov, Zlatko Yankov, Iordan Letchkov, Daniel Borimirov, hingga Krassimir Balakov. Namun, ketergantungan yang terlalu tinggi pada individu terbukti fatal.

Ketika generasi emas ini menua dan pensiun pada akhir era 90-an, sepak bola Bulgaria langsung runtuh. Ketiadaan investasi pada infrastruktur stadion dan akademi lokal membuat Bulgaria terakhir kali merasakan atmosfer Piala Dunia pada tahun 1998, dan kini mereka menjadi tim semenjana yang kesulitan bersaing bahkan di kualifikasi tingkat Eropa.

​Rumania (1994): Orkestra Indah Gheorghe Hagi Cum Suis

Pada perhelatan Piala Dunia yang sama, tahun 1994 di Amerika Serikat,​ Rumania juga tampil memukau dunia lewat permainan sepak bola menyerang yang atraktif.

Dimotori oleh kreativitas si jenius berkaki kidal, Gheorghe Hagi, tim berjuluk Tricolorii itu menampilkan salah satu taktik serangan balik terbaik dalam sejarah turnamen, termasuk saat menumbangkan Argentina 3-2 di babak 16 besar yang disebut-sebut sebagai salah satu laga terbaik Piala Dunia.

​Sayangnya, penampilan menawan mereka harus terhenti di babak perempat final setelah kalah adu penalti dari Swedia.

Keberhasilan di Amerika Serikat itu merupakan pencapaian tertinggi yang pernah diraih oleh Rumania pada ajang Piala Dunia dalam periode generasi emas Gheorghe Hagi Cum Suis.

Ketika era tersebut berakhir, sepak bola Rumania langsung terjun bebas, absen dari panggung Piala Dunia sejak abad ke-21 dimulai, dan bergulat dengan krisis talenta yang berkepanjangan.

​Denmark (1998): Ledakan Dinamit yang Terlambat

​Setelah mengejutkan Eropa dengan menjuarai Euro 1992, Denmark baru berhasil mereplikasi performa magis tersebut di panggung dunia pada Piala Dunia 1998 di Prancis.

Diperkuat oleh duo bersaudara, Michael dan Brian Laudrup, serta kiper legendaris Peter Schmeichel, tim Dinamit ini tampil meledak-ledak dan berhasil menghancurkan Nigeria 4-1 di babak 16 besar. Mereka melenggang ke perempat final, meski akhirnya kalah tipis 2-3 dari Brasil.

Menembus babak delapan besar menjadi prestasi tertinggi Denmark sepanjang sejarah Piala Dunia. Namun, transisi generasi setelah era Laudrup bersaudara terbukti tidak berjalan mulus, membuat Denmark kerap tampil tidak konsisten dan mudah tersingkir di babak awal pada edisi-edisi berikutnya. Bahkan teranyar, mereka gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

​Turki (2002): Generasi Emas yang Dirindukan

​Piala Dunia 2002 di Korsel – Jepang, menjadi saksi era keemasan sepak bola Turki di bawah kendali pelatih Şenol Güneş. Menampilkan kombinasi permainan fisik khas Eropa dan teknik tinggi, Turki menjadi tim kuda hitam yang mengejutkan sepanjang turnamen.

Mengandalkan nama-nama besar seperti Hakan Şükür, Hasan Şaş, dan Rüştü Reçber, mereka melaju hingga babak semifinal dan hanya kalah tipis 0-1 dari Brasil yang bertabur bintang.

​Turki akhirnya pulang sebagai juara ketiga, setelah mengalahkan tuan rumah Korea Selatan dalam laga perebutan tempat ketiga.

Namun, yang terjadi setelah kesuksesan Piala Dunia 2002 itu, Turki gagal mengulang sejarah, bahkan gugur di fase grup Piala Dunia 2026, setelah absen 24 tahun.

​Korea Selatan (2002): Standar Semu di Bawah Asuhan Hiddink

​Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002, Korea Selatan mengukir sejarah sebagai tim Asia pertama dan satu-satunya yang mampu menembus babak semifinal Piala Dunia.

Di bawah kendali arsitek bertangan dingin asal Belanda, Guus Hiddink, skuad Taegeuk Warriors bertransformasi menjadi tim dengan ketahanan fisik yang luar biasa dan taktik yang mengerikan, terlepas dari kontroversi yang mewarnai perhelatan Piala Dunia 2002.

Mereka menumbangkan raksasa-raksasa Eropa seperti Italia dan Spanyol lewat drama yang terus diperdebatkan hingga kini.

​Berbeda dengan Bulgaria atau Turki yang langsung absen dari turnamen, Korea Selatan terhitung sangat konsisten lolos ke putaran Piala Dunia di edisi-edisi berikutnya.

Namun, performa magis menembus babak empat besar terbukti menjadi standar semu yang teramat sulit diulangi. Tanpa keuntungan sebagai tuan rumah dan atmosfer dukungan fanatik publik sendiri, generasi-generasi baru sepak bola Korea Selatan hanya mampu melangkah hingga babak 16 besar.

​Senegal (2002): Tarian Terakhir Singa Teranga

​Piala Dunia 2002 di Korsel – Jepang juga diwarnai dengan salah satu kejutan terbesar sepanjang sejarah sepak bola saat tim debutan Senegal menumbangkan juara bertahan Prancis 1-0 di laga pembuka.

Menampilkan kreativitas El Hadji Diouf dan gelandang tangguh Papa Bouba Diop, Singa Teranga memikat dunia lewat kombinasi kecepatan fisik dan permainan enerjik khas benua Afrika.

​Mereka melaju hingga babak perempat final sebelum dihentikan oleh Turki lewat aturan golden gol.

Kesuksesan itu membuat para pemain mereka langsung diburu oleh klub-klub top Eropa, namun federasi sepak bola domestik Senegal gagal mengelola regenerasi.

Senegal langsung absen dalam tiga edisi Piala Dunia berikutnya, dan butuh waktu 16 tahun bagi mereka untuk bisa kembali menginjakkan kaki di Piala Dunia

​Ukraina (2006): Debut Manis Era Shevchenko

​Setelah lepas dari Uni Soviet, Ukraina akhirnya mencicipi putaran final Piala Dunia pertama mereka pada tahun 2006 di Jerman. Mereka diperkuat striker fenomenal peraih Ballon d’Or, Andriy Shevchenko.

Ukraina berhasil bangkit dari kekalahan telak di laga pertama melawan Spanyol, untuk kemudian melaju hingga babak perempat final setelah menyingkirkan Swiss lewat adu penalti. ​Sayang, langkah mereka dihentikan Italia yang kemudian keluar sebagai juara.

Keberhasilan menembus delapan besar pada debut mereka itu memicu ekspektasi besar. Namun, kenyataan pahit harus diterima karena sukses tersebut sangat bergantung pada figur Shevchenko.

Setelah sang striker pensiun, Ukraina kesulitan melahirkan penyerang kelas dunia yang setara dan belum pernah lagi berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia.

​Ghana (2010): Tragedi Penalti yang Menghancurkan Mimpi

​Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan menjadi momen di mana seluruh benua Afrika bersatu mendukung Ghana.

Mereka menampilkan skuad muda yang agresif seperti Asamoah Gyan dan Kevin-Prince Boateng. The Black Stars melaju ke babak perempat final dan nyaris menjadi tim Afrika pertama yang menembus semifinal.

Namun, mimpi itu hancur lewat drama handball Luis Suarez di garis gawang pada menit akhir perpanjangan waktu, diikuti kegagalan penalti Gyan.

​Ghana akhirnya tersingkir lewat adu penalti oleh Uruguay. Kegagalan yang menyakitkan itu meninggalkan trauma mendalam bagi perkembangan mental tim Ghana. Pada edisi-edisi berikutnya, Ghana didera konflik internal terkait bonus pemain, performa buruk, dan kegagalan total untuk bisa lolos dari fase grup.

​Kosta Rika (2014): Penakluk Grup Neraka

​Kosta Rika menciptakan dongeng paling tidak masuk akal pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Terjebak di grup neraka bersama tiga mantan juara dunia, ada Italia, Inggris, dan Uruguay.

Kosta Rika justru keluar sebagai juara grup tanpa tersentuh kekalahan. Mengandalkan ketangguhan kiper Keylor Navas dan organisasi pertahanan yang berlapis, mereka melaju hingga babak perempat final dan memaksa Belanda bermain hingga adu penalti sebelum akhirnya tersingkir.

​Pencapaian itu menempatkan Kosta Rika di puncak sejarah sepak bola Concacaf. Namun, pada edisi 2018 dan 2022, Kosta Rika kembali menjadi tim semenjana yang mudah didikte oleh negara-negara besar dan langsung pulang di babak awal.

​Kolombia (2014): Puncak Estetika Generasi James Rodriguez

​Masih dari edisi Brasil 2014, Kolombia menjelma menjadi tim yang paling menghibur di dunia lewat gaya bermain menyerang yang sangat cair dan tarian selebrasi yang ikonik.

Bertumpu pada performa James Rodriguez yang keluar sebagai top skor turnamen, Los Cafeteros melaju mulus ke babak perempat final sebelum akhirnya ditumbangkan oleh tuan rumah Brasil dalam laga yang sangat menguras fisik.

​Generasi Kolombia 2014 itu disebut-sebut sebagai tim terbaik setelah era Carlos Valderrama di tahun 90-an. Namun, ketergantungan pada kreativitas James Rodriguez yang performanya mulai tidak stabil di tingkat klub pasca-Piala Dunia berdampak besar bagi tim nasional.

Kolombia mengalami penurunan performa secara bertahap, mentok di babak 16 besar pada era 2018, dan bahkan gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2022, kemudian gagal lagi di babak 16 besar pada Piala Dunia 2026.

​Maroko (2022): Tembok Kokoh Afrika yang Menanti Pembuktian

​Piala Dunia 2022 di Qatar mencatatkan sejarah baru bagi sepak bola Afrika lewat performa magis Maroko. Di bawah kendali pelatih Walid Regragui yang baru bertugas beberapa bulan sebelum turnamen, Atlas Lions menjelma menjadi tim dengan organisasi pertahanan paling solid yang mengejutkan dunia.

Mereka menjuarai grup neraka yang berisi Kroasia dan Belgia, kemudian menyingkirkan dua raksasa semenanjung Iberia, Spanyol dan Portugal, di fase gugur.

​Maroko menjadi tim Afrika pertama yang menginjakkan kaki di semifinal Piala Dunia. Gaya bermain mereka yang pragmatis namun sangat disiplin mendapat pujian luas.

Kendati demikian, sejarah manis itu sulit mereka ulang di Piala Dunia 2026. Maroko harus tersingkir di babak perempat final, setelah kalah dua gol tanpa balas oleh Prancis.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Belum Perkuat Persipura, Taki Masih Terkendala KITAS

20 Okt 2026 - 07:58 WIB

Belum Perkuat Persipura, Taki Masih Terkendala KITAS

Persipura Pastikan Siap Bermarkas Kembali di Stadion Lukas Enembe

18 Okt 2026 - 19:02 WIB

Persipura Pastikan Siap Bermarkas Kembali di Stadion Lukas Enembe

Alexsandro Cetak Hattrick ke Gawang Sang Mantan

17 Okt 2026 - 21:06 WIB

Alexsandro Cetak Hattrick ke Gawang Sang Mantan

Persipura Menang Telak atas PSBS

17 Okt 2026 - 21:01 WIB

Persipura Menang Telak atas PSBS
Trending di Sport