Menu

Mode Gelap

News

Heroik! Jalan Kaki 24 Jam Pikul Logistik Pemilu

badge-check


					Tampak personil Polres Keerom Briptu Muflihuddin dan Bripda Rian Merahabia ketika menyeberangi sungai ketika melakukan pengawalan logistik Pemilu 2024 menuju Kampung Milki, Distrik Towe, Keerom pada 15 Februari 2024 silam / Istimewa Perbesar

Tampak personil Polres Keerom Briptu Muflihuddin dan Bripda Rian Merahabia ketika menyeberangi sungai ketika melakukan pengawalan logistik Pemilu 2024 menuju Kampung Milki, Distrik Towe, Keerom pada 15 Februari 2024 silam / Istimewa

Jayapura, Euforia.id | Proses pencoblosan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden dan Wakil Presiden serta Anggota Legislatif 2024 telah usai dilakukan. Namun ada beberapa penggalan kisah heroik selama proses pencoblosan berlangsung. Seperti yang dilakukan oleh dua anggota polisi Polres Keerom, Papua, Briptu Muflihuddin dan Bripda Rian Merahabia.

Keduanya mengemban tugas mulia saat melakukan mobilisasi logistik Pemilu sekaligus melakukan pengamanan di TPS Kampung Milki, Distrik Towe. Kampung terjauh dari Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Kampung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.

Bukan perkara mudah untuk mengantar logistik sampai ke TPS Kampung Milki. Butuh perjuangan keras, mental baja dan fisik yang prima. Sebab, Kampung Milki hanya bisa diakses lewat udara dan jalan kaki via Kampug Pris, Distrik Towe.

Pesawat pun terbatas, penerbangan hanya tersedia bila ada carteran. Tak ada pilihan lain membuat Briptu Muflihuddin dan Bripda Rian Merahabia harus berjalan kaki saat mengantar dan mengawal logistik ke Kampung Milki.

Briptu Muflihuddin berkisah, pada 11 Februari, mereka melakukan pengawalan logistik dari gudang KPU Keerom di Swakarsa, Distrik Arso. Dari gudang KPU mereka mengendarai mobil menuju Polsek Senggi dengan waktu perjalan 5 jam.

Barulah pada tanggal 14 Februari mereka melanjutkan perjalanan dari Polsek Senggi ke Kampung Pris, Distrik Towe. Dari Polsek Senggi ke Kampung Pris ditempuh dengan waktu 6 jam dengan kendaraan roda empat. Mereka tiba pukul 09.00 WIT.

Kampung Pris merupakan batas jalur kendaraan roda empat dan roda dua. Artinya mobilisasi menggunakan kendaraan hanya bisa dilakukan hingga Kampung Pris.

“Mulai perjalanan dari Polsek Senggi tanggal 14 pukul 02.00 pagi dan sampai di Kampung Pris jam 09.00 pagi,” ungkap Briptu Muflihuddin kepada Euforia.id, Kamis (28/5/2026).

Perjuangan sesungguhnya dimulai dari Kampung Pris. Usai istirahat dan melakukan persiapan matang, akhirnya Muflihuddin dan Rian Merahabia memulai perjalanan kaki mereka pada tanggal 15 Februari pukul 06.00 dan tiba di Kampung Milki pukul 17.37.

Artinya, mereka melakukan perjalan kaki seharian penuh atau 12 jam. Sebuah perjalanan yang tak mudah. Benar-benar menguras tenaga.

“Capeknya luar biasa, perjalanan kaki sekitar 12 jam,” ujarnya.

Muflihuddin menuturkan, dalam perjalanan, mereka tak hanya berdua. Mereka ditemani oleh para anggota KPPS dan masyarakat ikut dalam rombongan dengan jumlah keseluruhan rombongan sebanyak 8 orang.

Dia bercerita, apa yang mereka lakukan nyaris mustahil. Rintangan bukan hanya soal jarak yang jauh, namun mereka juga harus melewati medan yang berat. Seperti menyeberangi beberapa sungai besar yang dihuni buaya. Mereka juga melintas keluar masuk hutan.

“Adapun akses jalan yang kita lewati yaitu jalan setapak, menyeberangi sungai kadang melawan arus dan juga ada buata serta melintas di tengah hutan. Kami keluar masuk hutan, kemudian melewati beberapa perbukitan,” katanya.

Selama perjalan, kata Muflihuddin, kotak suara beserta surat suara tak pernah lepas dari punggung. Mereka selalu memikul bersama dengan ransel yang berisi kebutuhan pribadi. Perjalan yang benar-benar melelahkan.

“Untuk kelengkapan pribadi kita tidak ada bawa yang macam-macam, hanya perlengkapan seperlunya saja. kita menguatkan logistik Pemilu karena mengingat waktu tempuh perjalan yang sangat jauh,” ujarnya.

Sehingga tak heran jika TPS Kampung Milki melakukan pencoblosan susulan pada 16 Februari dengan diikuti sebanyak 179 DPT.

Perjuangan belum berakhir, proses pencoblosan usai, Muflihuddin kembali berkemas karena kembali melakukan perjalan pulang dengan melewati jalan dan rintangan yang sama.

Saat jalan pulang, Muflihuddin tak ditemani oleh rekannya Rian. Pasalnya Rian tak mampu lagi melakukan perjalan pulang dengan kondisi fisik yang kurang fit. Dia harus dipulangkan menggunakan pesawat. Sementara Muflihuddin tetap kembali berjalan kaki dengan memikul kotak suara beserta isinya dengan ditemani oleh rombongan sebanyak 10 orang.

“Setelah selesai pencoblosan, kami langsung kembali membawa pulang kotak suara bersama anggota Panwas dan KPPS. Pada saat perjalan pulang hanya saya yang bisa mengawal surat suara sendiri dari pihak keamanan karena rekan saya sudah tidak sanggup (sakit) dan diberangkatkan dengan pesawat,” ungkapnya.

Sama saat berangkat, saat kembali pun Muflihuddin dan rombongan melakukan perjalan pulang kurang lebih 12 jam. Artinya Muflihuddin melakukan perjalanan kaki selama 24 jam dengan beban memikul kotak suara.

Dia juga membeberkan, sepanjang perjalanan mereka hanya bisa saling menghibur untuk meringankan beban mereka. Bahkan soal makan, mereka hanya membawa bekal seadanya. Bahkan mereka kerap meminum air sungai karena persediaan air yang juga terbatas.

Dirinya mengaku bangga dan mengucap syukur mereka bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Apalagi ini kali pertama mobilisasi logistik pemilu dilakukan dengan berjalan kaki. Berbeda dengan Pemilu sebelumnya yang selalu menggunakan transportasi udara (carter pesawat).

Baca Lainnya

Polisi Gerak Cepat Tangani Insiden Ledakan Bom di Biak

31 Mei 2026 - 21:35 WIB

Resmi Dilantik, IKEMAL Papua Gelorakan Semangat Pela Gandong

31 Mei 2026 - 09:15 WIB

Pemuda HKBP Diharapkan Jadi Generasi Hijau yang Mandiri dan Ramah Lingkungan

30 Mei 2026 - 12:59 WIB

Napak Tilas Pelayanan HKBP: Sejarah Perjumpaan Kristen dan Batak 

30 Mei 2026 - 12:59 WIB

Trending di News