Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Sport

Inggris, Singa Pecundang yang Belum Mampu Memulangkan Harga Dirinya

badge-check

Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

​Euforia.id | Asa publik Inggris untuk mengakhiri penantian panjang selama enam dekade kembali hancur dengan cara yang sama sekali tidak mereka duga. Di stadion megah Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, laga semifinal Piala Dunia 2026 menghadapi Argentina yang tampaknya sudah berada dalam genggaman Inggris berbalik menjadi malam kelabu.

Keunggulan yang sudah dijaga sepanjang 30 menit babak kedua sirna dalam waktu singkat, memaksa Inggris kembali menerima kenyataan pahit sebagai singa pecundang yang gagal membawa pulang harga dirinya.

​Inggris sempat membuka harapan besar lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Gol tersebut membuat seisi stadion bergemuruh, seolah-olah kutukan panjang sejak tahun 1966 akan segera berakhir.

Namun, pertahanan rapat yang dibangun Thomas Tuchel mendadak rapuh di saat-saat paling krusial. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan untuk Argentina pada menit ke-85.
Saat laga tampak akan berlanjut ke babak tambahan, pukulan telak kembali datang lewat gol Lautaro Martinez pada menit ke-90+2.

Dalam kurun waktu tujuh menit, mimpi indah itu buyar sepenuhnya. Kegagalan tragis di Atlanta ini membawa kembali memori kelam Piala Dunia 2018 di Rusia, di mana Inggris juga harus tersingkir di fase yang sama dengan rasa sakit yang serupa.

​Kekalahan ini mempertegas fakta sejarah yang menyakitkan, Inggris masih belum berhasil menembus babak final Piala Dunia sejak keberhasilan mereka mengangkat trofi Jules Rimet pada tahun 1966 silam.

Setelah kejayaan di rumah sendiri enam puluh tahun lalu itu, pencapaian tertinggi Inggris hanya sampai pada babak semifinal, atau dua kali menjadi juara keempat, yakni di Italia pada tahun 1990 dan di Rusia pada tahun 2018. Tembok semifinal kembali menjadi batas terjauh yang tidak mampu mereka seberangi.

​Kekalahan ini sekaligus meruntuhkan target Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Saat menunjuk Thomas Tuchel pada akhir tahun 2024 untuk menggantikan Gareth Southgate, FA didasari oleh satu tujuan. Mereka tidak ingin lagi membuang waktu untuk membangun ulang tim dari nol.

Dengan generasi emas yang dinilai sudah sangat matang dan siap menang, FA mencari pelatih yang bisa memberikan dampak instan dan jaminan trofi dalam waktu cepat.

​Pilihan itu jatuh kepada Tuchel karena reputasinya yang mentereng sebagai seorang spesialis turnamen sistem gugur, atau yang kerap dijuluki “Tournament Thomas”. Julukan ini melekat karena kemampuannya membaca permainan lawan dengan sangat cepat, fleksibilitas taktis yang tinggi, serta keberaniannya melakukan bongkar-pasang skuad di tengah turnamen demi mengamankan kemenangan.

​Rekam jejak Tuchel di level klub memang menunjukkan pola yang selalu sama, ia hampir tak pernah gagal mempersembahkan trofi di setiap tim yang ditanganinya.

Perjalanannya dimulai di Mainz 05 dari tahun 2009 hingga 2014, di mana ia menukangi tim dengan anggaran sangat terbatas. Meski tidak meraih trofi mayor di sana, Tuchel berhasil membawa klub tersebut tampil kompetitif hingga lolos ke kompetisi Eropa.

​Setelah fase pembuktian di Mainz, keran trofi Tuchel mulai terbuka lebar. Bersama Borussia Dortmund pada periode 2015 hingga 2017, ia mempersembahkan satu gelar DFB-Pokal pada musim 2016/2017.

Ketajamannya meracik strategi berlanjut di Paris Saint-Germain dengan raihan total enam trofi domestik, termasuk dua gelar Ligue 1, serta membawa klub Paris tersebut ke final Liga Champions pertama mereka.

Puncak reputasinya sebagai penyelamat terjadi saat ia menangani Chelsea pada 2021 hingga 2022, di mana ia langsung mempersembahkan tiga trofi internasional bergengsi, yaitu Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Bahkan sebelum menerima pinangan Inggris, ia sempat memberikan gelar Bundesliga untuk Bayern Munchen pada musim 2022/2023.

​Ketegasan taktis dan kepercayaan diri yang tinggi itu sebenarnya sudah menjadi karakter Tuchel sejak usia muda. Pada masa remajanya, ia dijuluki “Don Alfredo” sebuah gelar yang merujuk pada keanggunan legenda Real Madrid, Alfredo Di Stéfano.

Julukan itu diberikan karena Tuchel muda memiliki pembawaan yang sangat percaya diri, sedikit arogan namun menyenangkan, dan selalu bersikap layaknya bos yang mengatur ritme permainan di lapangan. Karakter inilah yang diharapkan FA bisa menular ke dalam mentalitas skuad Inggris yang sering kali goyah di bawah tekanan besar.

​Namun, magis “Don Alfredo” ternyata membentur dinding tebal sejarah sepak bola yang telah bertahan selama 96 tahun. Sejak Piala Dunia pertama kali digelar pada tahun 1930, belum pernah ada satu pun pelatih asing yang mampu membawa negara asuhannya keluar sebagai juara dunia.

Sejarah mencatat bahwa hanya ada dua nama pelatih asing yang mampu membawa timnya ke laga puncak, yaitu George Raynor asal Inggris yang membawa Swedia ke final Piala Dunia 1958, dan Ernst Happel asal Austria yang mengantar Belanda ke final Piala Dunia 1978.

​Dengan kekalahan dramatis dari Argentina, Tuchel gagal bergabung dengan kelompok elite tersebut dan harus mengubur peluangnya untuk meruntuhkan kutukan pelatih asing.

Malam kelabu di Atlanta menegaskan jalan pintas yang mereka rancang lewat pelatih asal Jerman tersebut, tetap belum mampu memulangkan harga diri sepak bola ke tanah Britania.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Belum Perkuat Persipura, Taki Masih Terkendala KITAS

20 Okt 2026 - 07:58 WIB

Belum Perkuat Persipura, Taki Masih Terkendala KITAS

Persipura Pastikan Siap Bermarkas Kembali di Stadion Lukas Enembe

18 Okt 2026 - 19:02 WIB

Persipura Pastikan Siap Bermarkas Kembali di Stadion Lukas Enembe

Alexsandro Cetak Hattrick ke Gawang Sang Mantan

17 Okt 2026 - 21:06 WIB

Alexsandro Cetak Hattrick ke Gawang Sang Mantan

Persipura Menang Telak atas PSBS

17 Okt 2026 - 21:01 WIB

Persipura Menang Telak atas PSBS
Trending di Sport