Euforia.id | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa data dan informasi cuaca serta iklim merupakan fondasi krusial dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Seminar Nasional Lemhannas RI di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Faisal menjelaskan, melalui kajian agroklimatologi, informasi iklim dapat dimanfaatkan secara presisi untuk menentukan kesesuaian lahan, memilih komoditas yang tepat, menyusun kalender tanam, hingga mengantisipasi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem.
“Sebenarnya di BMKG telah banyak kajian, dan kita sudah menentukan daerah-daerah mana yang cocok untuk tanaman apa saja. Dengan segenap modalitas, 191 UPT, dan 10.000 lebih alat pengamatan, kita tentu dapat memberikan pemantauan dengan jauh lebih baik,” ujar Faisal dalam siaran pers BMKG.
Dalam kesempatan tersebut, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi musim kemarau yang jauh lebih kering pada tahun 2026 akibat pengaruh fenomena El Nino.
Kondisi ini berpotensi memangkas curah hujan dan memicu kekeringan parah, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa.
Daerah yang rawan terdampak meliputi Pulau Jawa (khususnya wilayah pesisir), Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Sebagian wilayah Papua Selatan.
Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan periode Juli hingga Desember 2026 akan berada pada kategori rendah hingga menengah (di bawah normal).
Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan bakal terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Menghadapi ancaman kekeringan ini, BMKG mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai instrumen mitigasi. Langkah ini dilakukan untuk membantu pengisian waduk, bendungan, dan embung guna mengamankan cadangan air irigasi pertanian sebelum memasuki puncak kemarau.
Meski menantang, Faisal menyebut musim kemarau kali ini tetap membawa peluang ekonomi. Kondisi kering dapat dimanfaatkan petani untuk menggenjot produksi garam nasional, mempercepat pengeringan hasil panen, serta mengalihkan fokus ke tanaman yang tahan kering seperti palawija dan sorgum.
Guna memastikan mitigasi berjalan hingga tingkat tapak, BMKG terus memperkuat program Sekolah Lapang Iklim (SLI). Hingga tahun lalu, program edukasi bagi petani ini telah menjangkau hampir 28.000 peserta di lebih dari 700 lokasi di seluruh Indonesia.

















Komentar ditutup.