Euforia.id | Luis De La Fuente kembali membawa tim nasional Spanyol menapaki laga puncak. Kali ini final Piala Dunia 2026, usai kembali menyingkirkan Prancis yang dilatih Didier Deschamps, pada laga semifinal yang berakhir dengan dua gol tanpa balas di AT&T Dallas Stadium, Texas, Amerika Serikat.
Pencapaian itu mengakhiri penantian panjang publik Spanyol selama enam belas tahun di panggung Piala Dunia, setelah terakhir kali merasakannya saat angkatan emas besutan Vicente del Bosque menjadi juara dunia pada edisi 2010 di Afrika Selatan.
Keberhasilan De la Fuente juga mencatatkan rekor impresif, selalu meraih kemenangan setiap kali berhadapan dengan Prancis yang ditangani oleh Didier Deschamps.
Kiprah Luis de la Fuente sebagai pelatih timnas sepak Bola Spanyol menorehkan sebuah perjalanan panjang yang unik, menjadikannya salah satu pelatih dengan rekam jejak paling mengesankan dalam sejarah tim nasional.
Ia adalah penyihir yang hebat. Berbeda dengan para pendahulunya yang sering kali ditunjuk karena reputasi besar di level klub, De la Fuente merangkak dari bawah melalui seluruh tingkatan umur selama tiga belas tahun.
Perjalanannya dimulai pada tahun 2013 ketika ia pertama kali dipercaya menangani skuad U-19. Di level itu, ia berhasil mengantarkan Spanyol menjadi kampiun Piala Eropa U-19 pada tahun 2015.
Kesuksesan itu menjadi awal dari sebuah rantai prestasi yang menegaskan reputasinya sebagai pelatih spesialis final turnamen.
De la Fuente memiliki kemampuan unik dalam membawa tim asuhannya melangkah jauh hingga ke partai puncak dan mengonversinya menjadi trofi juara.
Terbukti, keberhasilannya berlanjut di level U-21, di mana ia kembali menembus final dan mempersembahkan trofi juara Piala Eropa U-21 pada tahun 2019 setelah mengalahkan Jerman.
Kemampuannya mengelola tim nasional pada level turnamen semakin kukuh ketika ia menahkodai skuad Olimpiade Spanyol mencapai final dan meraih medali perak di Tokyo.
Ketika mandat dari federasi Spanyol mengutusnya menangani tim senior, statusnya sebagai spesialis laga final langsung terbukti dengan menjuarai UEFA Nations League pada tahun 2023.
Hebatnya, ia kembali berhasil membawa timnas Sanyol mengangkat mahkota juara Piala Eropa pada tahun 2024.
Rentetan keberhasilan menembus dan memenangkan partai puncak dari level junior hingga senior itu membentuk rekor kepelatihan yang luar biasa dalam perjalanan karier De La Fuente, menjadikannya arsitek dengan koleksi gelar terlengkap di jajaran pelatih Spanyol.
Sumbangsih terbesar De la Fuente dalam sejarah sepak bola Spanyol adalah keberaniannya melakukan dekonstruksi komposisi skuad.
Sebagai pria asal tanah Basque yang menghabiskan masa-masa keemasannya sebagai pemain bersama Athletic Bilbao pada dekade 1980-an, darah dan prinsip sepak bola Basque melekat sangat kuat dalam cara pandangnya.
De la Fuente meruntuhkan hegemoni klasik yang selama berdekade-dekade memenjarakan tim nasional Spanyol dalam pusaran politik internal ego klub. Ia melahirkan identitas baru yang kini dikenal luas sebagai Poros Basque-Catalan.
Skuad Spanyol bentukan De la Fuente bertumpu pada para pemain dari klub-klub wilayah Basque seperti Real Sociedad dan Athletic Bilbao. Mereka membawa warisan historis sepak bola Euskadi yang mengutamakan ketahanan fisik, militansi di lapangan, keunggulan duel udara, serta kedisiplinan tinggi dalam bertahan.
Karakteristik yang tangguh itu dipadukan secara harmonis dengan bakat-bakat alami dari wilayah Catalan didikan La Masia, Barcelona.
Keberanian De La Fuente dalam merombak tradisi pemilihan pemain, menjaga konsistensi rekor kemenangan atas rival-rival besar, telah berhasil mengembalikan kehormatan Spanyol di peta puncak persaingan sepak bola dunia.















Komentar ditutup.