Jayapura, Euforia.id | PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (AMJ) menargetkan pemasangan 1.500 sambungan rumah (SR) baru sepanjang 2026. Penambahan sambungan tersebut akan diprioritaskan di wilayah Distrik Muara Tami.
Direktur Utama PT. Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (PT AMJRN), Dr.Entis Sutisna ,S.E.,M.Ak.,M.M.,Ak.,CA, mengatakan, Muara Tami menjadi wilayah prioritas karena masih memiliki potensi sumber air dan kawasan pengembangan Perumahan.
“Target kami tahun 2026 ini pemasangan 1.500 sambungan rumah. Konsentrasi utama berada di Muara Tami, sementara sekitar 500 sambungan lainnya diupayakan tersebar di wilayah Jayapura Utara, Jayapura Selatan, dan daerah pelayanan Lainnya,” ujar Entis.
Ia menjelaskan, jumlah sambungan rumah di Muara Tami saat ini sekitar 3.000 sambungan. Karena itu, AMJ menargetkan penambahan 1.000 sambungan sehingga hingga Desember 2026 jumlah pelanggan di wilayah tersebut dapat mencapai sekitar 4.000 sambungan Rumah.
“Dengan Target yang harus kita capai ini saya harapkan dapat direalisasikan karena Muara Tami terus berkembang, terutama dengan bertambahnya kawasan perumahan baru. Sebelumnya, AMJ juga menempatkan Muara Tami sebagai wilayah utama perluasan cakupan pelayanan air Bersih,” kata Entis.
Selain pemasangan sambungan baru, AMJ juga terus mendorong pembangunan infrastruktur sumber air, termasuk pembangunan Sumber Kunci 2.
Entis mengatakan pembangunan Sumber Kunci 2 masih menghadapi kendala karena adanya permintaan ganti rugi adat dari masyarakat pemilik hak ulayat. Proyek yang dibiayai melalui APBD Provinsi Papua tersebut dilaporkan telah terhenti sekitar satu setengah Tahun.
“Terdapat tuntutan masyarakat adat sekitar Rp500 juta. Kami berharap Pemerintah Provinsi Papua dapat melanjutkan pembangunan Tersebut,” ucapnya.
Menurut Entis, Pemerintah Kota Jayapura telah memberikan dukungan anggaran untuk penyelesaian ganti rugi kepada masyarakat adat. Pembayaran akan dilakukan sesuai kesepakatan yang telah dibangun Sebelumnya.
Ia menyebut, wilayah pembangunan Sumber Kunci 2 dan jalur pipa yang melintas melibatkan sejumlah kelompok masyarakat adat. Karena itu, penyelesaian aspek sosial dan adat menjadi salah satu syarat penting agar pembangunan dapat kembali Berjalan.
“Saya berharap pembangunan tersebut dapat dilanjutkan pada semester kedua 2026 atau pada 2027, setelah proses penyelesaian dengan pemerintah provinsi dan masyarakat adat Tuntas,” ungkapnya.
AMJ juga tengah mengidentifikasi sejumlah sumber air baru yang berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Kota dan Kabupaten Jayapura.
Entis menyampaikan, dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam pengembangan infrastruktur air bersih. Pemerintah Kabupaten Jayapura, kata dia, telah merencanakan penambahan kapasitas produksi di wilayah Sentani, termasuk pemanfaatan sumber air di sekitar Air Terjun Pos 7.
“Rencana tersebut diarahkan untuk melayani masyarakat di sekitar kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Jayapura hingga jalur pipa menuju Kampung Seren,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Jayapura mendukung pembangunan reservoir di wilayah Koya. Pemanfaatan sumber air Danau Sentani juga direncanakan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Jayapura.
“Dukungan dari pemerintah kota, kabupaten, dan provinsi sangat besar terhadap pembangunan air bersih. Kami berharap rencana-rencana tersebut dapat direalisasikan secara Bertahap,” tuturnya.
Salah satu potensi sumber air yang menjadi perhatian AMJ berada di Koya Koso, Distrik Muara Tami. Sumber air tersebut diperkirakan mampu mendukung pelayanan sekitar 4.000 hingga 5.000 sambungan Rumah.
“Untuk membangun sumber air baru beserta jaringan pipanya hingga kawasan Perumahan Anugerah dan sekitarnya, dibutuhkan investasi sekitar Rp20 miliar. AMJ telah mengusulkan dukungan pembiayaan kepada pemerintah kota dan pemerintah Provinsi,” ungkap Entis.
Entis menjelaskan, pelayanan air bersih AMJ saat ini masih menghadapi tantangan dari sisi kuantitas, kualitas, dan Kontinuitas.
Dari sisi kuantitas, kapasitas produksi air saat ini sekitar 715 liter per detik yang bersumber dari 23 titik. Namun, sistem jaringan belum sepenuhnya terinterkoneksi karena sebagian sumber air berada di wilayah Kabupaten Jayapura dan sebagian lainnya berada di wilayah Kota Jayapura.
Kondisi tersebut menyebabkan distribusi air belum dapat dilakukan secara merata ke seluruh pelanggan. Setiap wilayah pelayanan masih bergantung pada sumber air masing-masing.
“Dengan kondisi debit air yang terbatas dan sumber-sumber air yang belum saling terhubung, pemerataan pelayanan memang masih menjadi tantangan,” katanya.
Akibatnya, terdapat wilayah yang menerima aliran air tiga kali dalam seminggu, sementara wilayah lainnya hanya dua kali dalam seminggu. Durasi pengaliran juga belum dapat dilakukan selama 24 jam setiap hari.
Meski demikian, AMJ berkomitmen mengoptimalkan debit air yang tersedia agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara maksimal. Pengaturan distribusi dilakukan secara bergilir berdasarkan kondisi sumber air dan sistem jaringan di setiap wilayah Pelayanan.
Dari sisi kualitas, AMJ memastikan pengawasan terhadap mutu air dilakukan secara rutin sebelum air didistribusikan kepada Pelanggan.
“Kami terus menjaga kualitas air melalui pembersihan rutin dan penggunaan sodium hipoklorit. Hal ini dilakukan untuk memastikan air yang diterima pelanggan tetap memenuhi standar Pelayanan,” jelas Entis.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pelayanan membutuhkan dukungan anggaran, pembangunan sumber air baru, perluasan jaringan, serta interkoneksi Antarsistem.
“Saya berharap dukungan pemerintah dan masyarakat dapat mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih, terutama di kawasan Muara Tami dan wilayah pengembangan perumahan baru. Dengan demikian, perluasan sambungan rumah dapat berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi dan pemerataan distribusi air bagi Masyarakat,” pungkas Entis.

















Komentar ditutup.