Euforia.id | Gelaran Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para bintang muda sepak bola dunia untuk unjuk gigi, melainkan juga menorehkan tinta emas dalam sejarah kepelatihan. Sorotan kini tertuju pada sosok pelatih veteran asal Belanda, Dick Advocaat.
Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, juru taktik kawakan yang dijuluki De Kleine Generaal atau “Si Jenderal Kecil” ini telah menahbiskan dirinya sebagai pelatih tertua yang pernah memimpin sebuah tim dalam sejarah panjang putaran final Piala Dunia.
Rekor yang dipecahkan Advocaat melampaui catatan legendaris milik pelatih asal Jerman, Otto Rehhagel, yang berusia 71 tahun 317 hari saat menakhodai Yunani di Piala Dunia 2010 silam.
Menariknya, takdir mempertemukan Advocaat pada laga pembuka Grup E melawan tim nasional Jerman yang diarsiteki oleh Julian Nagelsmann. Pertemuan ini menyajikan kontras generasi yang luar biasa di pinggir lapangan, mengingat Nagelsmann berusia 40 tahun lebih muda dari Advocaat.
Ketika Nagelsmann baru lahir ke dunia pada tahun 1987, Advocaat tercatat sudah menjalani enam tahun karier profesionalnya sebagai pelatih kepala.
Tangan dinginnya berhasil membawa negara kepulauan kecil di Karibia, Curacao, mengukir sejarah dengan lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Keberhasilan itu sekaligus menjadikan Curacao sebagai negara dengan populasi terkecil yang pernah menembus panggung tertinggi sepak bola sejagat.
Namun, beberapa bulan sebelum turnamen dimulai, Advocaat sempat mengejutkan publik dengan memutuskan mundur dari jabatannya. Langkah berat itu diambil demi fokus mendampingi putrinya yang sedang mengalami masalah kesehatan serius, sebuah keputusan yang menegaskan bahwa keluarga berada di atas urusan sepak bola.
Pasca-mundurnya Advocaat, posisi pelatih kepala Curacao kemudian sempat dialihkan kepada sesama pelatih asal Belanda, Fred Rutten. Kendati demikian, dinamika internal tim berjalan cepat.
Menyusul hasil kurang memuaskan dalam beberapa laga uji coba serta adanya desakan kuat dari para pemain kunci dan sponsor utama yang menginginkan figur kepemimpinan Advocaat, Rutten berjiwa besar memilih meletakkan jabatannya demi kebaikan stabilitas tim.
Federasi Sepak Bola Curacao langsung bergerak cepat menghubungi kembali Advocaat setelah situasi keluarga sang pelatih mulai membaik. Sang jenderal tua pun menyambut panggilan tersebut dengan tangan terbuka demi menuntaskan petualangan magis yang telah dimulainya sejak babak kualifikasi.
Sepanjang karier nomadennya yang luar biasa, Advocaat telah melatih di berbagai belahan dunia, termasuk memimpin Belanda di Piala Dunia.
Meskipun kalah di laga perdana menghadapi Jerman dengan skor 7-1, kiprah Curacao di Piala Dunia telah meneteskan air mata Dick Advocaat, yang bahkan dia sendiri tak menyangka bisa mewujudkan mimpi negara kecil yang hanya punya 180 ribu-an penduduk itu.
Ia tak bisa menutupi tangis harunya ketika Livano Comenencia mencetak satu-satunya gol Curacao ke gawang Manuel Neuer, sekaligus membukukan sejarah baru sebagai gol pertama timnas Curacao di ajang Piala Dunia.















