Jayapura, Euforia.id | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan berlangsung pada Juli hingga September 2026.
Kemarau tahun ini diperkirakan bakal lebih kering dan lebih panjang dari biasanya akibat fenomena El Nino yang diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa sebaran puncak kemarau akan terjadi bertahap. Pada Juli, kemarau mencapai puncak di 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26% luas daratan. Wilayah terdampak meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan, Jawa, NTT, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
”Puncaknya meluas pada Agustus di 369 ZOM (48,84% luas daratan) mencakup sebagian besar Jawa, Bali, NTB, dan Papua. Kemudian disusul 169 ZOM (25,41% luas daratan) pada September,” ujar Faisal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa hingga akhir Mei, sebanyak 200 ZOM telah memasuki musim kemarau.
Kondisi ini diprediksi kian ekstrem karena peluang El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%. Dampak El Nino ini diperkirakan terasa kuat di Indonesia hingga pertengahan Oktober 2026.
Menanggapi potensi kekeringan ini, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi strategis bagi berbagai sektor.
Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air serta tahan kekeringan. Melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki distribusi air bersih, dan menjaga kapasitas air bendungan untuk operasional PLTA.
Pemerintah daerah juga diminta bersiap mengantisipasi lonjakan kasus ISPA akibat penurunan kualitas udara.
Selain itu, BMKG memperingatkan tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama pemerintah daerah akan memperkuat pencegahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional.
Masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan terus memantau saluran resmi BMKG atau menghubungi kantor BMKG terdekat untuk merencanakan aksi mitigasi dini di wilayah masing-masing.










