Euforia.id | Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan mencatat bahwa persiapan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar telah melalui proses panjang. Pada 2025, sebanyak 1.057 Fasilitator Daerah (Fasda) disiapkan melalui PKGSD-MBI, disusul pelatihan terstruktur berbasis pola In-On-In pada 2026 yang menjangkau 5.777 guru SD, serta akses Pelatihan Mandiri oleh 15.000 guru melalui Ruang GTK.
Namun, mengingat skala kebutuhan nasional yang sangat luas dan mendesak, pelibatan institusi pendidikan tinggi menjadi instrumen kunci untuk memperluas jangkauan pembinaan secara merata.
Kolaborasi lintas sektor ini merupakan bagian dari semangat Partisipasi Semesta Kemendikdasmen dalam memajukan kualitas fondasi pendidikan dasar di tanah air.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani menjelaskan bahwa perguruan tinggi penerima Bantuan Pemerintah memiliki tanggung jawab penuh dalam mengelola sumber daya, menyiapkan fasilitator, menyelenggarakan kegiatan, hingga menyusun laporan pertanggungjawaban anggaran secara transparan.
Seluruh rangkaian kegiatan di lapangan juga dikoordinasikan secara erat dengan dinas pendidikan kabupaten/kota serta Unit Pelaksana Teknis Ditjen GTK di daerah agar sasaran program benar-benar tepat guna.
“Berbagai upaya tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah dalam menyiapkan guru menghadapi pemberlakuan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar. Namun, mengingat besarnya kebutuhan peningkatan kompetensi guru, diperlukan langkah percepatan dengan melibatkan lebih banyak mitra, khususnya perguruan tinggi,” jelas Nunuk, dinukil dari siaran pers Kemendikdasmen.
Dukungan terhadap kebijakan ini datang dari kalangan akademisi yang melihat program tersebut sebagai solusi konkret atas tantangan geografis dan pemerataan mutu pendidikan.
Dosen Universitas Halu Oleo Kendari, Mustamin Anggo, menilai program ini sangat bermanfaat untuk memperluas akses peningkatan kompetensi guru, terutama di daerah dengan tantangan geografis yang cukup kompleks.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi S1 Bahasa Inggris Universitas Mahasaraswati Denpasar, Nengah Dwi Handayani, menyambut baik kerja sama tersebut dan mengonfirmasi bahwa pihak kampus telah bergerak cepat menjalin koordinasi dengan BGTK Bali, dinas pendidikan, Fasda, alumni PKGSD-MBI, hingga jajaran dosen internal demi menyukseskan pelatihan.
Menanggapi sinergi yang terjalin, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengingatkan seluruh perguruan tinggi mitra agar senantiasa menjaga standar mutu materi serta memastikan praktik dan simulasi mengajar terlaksana dengan tertib dan transparan. Keberhasilan program pelatihan ini dinilai bukan sekadar dihitung dari aspek administratif formalistis.
“Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kelas, peserta, atau sertifikat, tetapi dari peningkatan kompetensi dan kepercayaan diri guru serta dampaknya terhadap pembelajaran murid,” tegas Abdul Mu’ti.














Komentar ditutup.