Euforia.id | Desa Tumpak di Lombok Tengah dan Dusun Bondan di Cilacap mulai merasakan perubahan signifikan setelah pemanfaatan energi terbarukan dan program pemulihan lingkungan berjalan di wilayah mereka.
Di Desa Tumpak, warga yang dipimpin Burhanudin menanam kembali kawasan hutan lindung yang gundul sejak 2018. Sekitar 30 ribu pohon kini tumbuh dan mendatangkan dampak ekonomi.
Aktivitas peternakan berkembang, ekowisata menarik 800 pengunjung per tahun, serta produksi olahan kelapa seperti cocopeat, VCO, dan briket menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun yang melibatkan 60 tenaga kerja. Seluruh kegiatan ini ditopang panel surya 6,6 kWp.
“Semakin banyak pohon yang tertanam, semakin banyak sumber perekonomian baru yang tumbuh di desa ini,” kata Burhanudin dari rilis Pertamina.
Sementara itu, di Dusun Bondan, Cilacap, isolasi listrik berakhir dengan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH). Sebelum 2017, warga harus menempuh perjalanan berperahu sejauh tujuh kilometer demi mendapatkan air bersih.
Kini, listrik dari PLTH tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga menggerakkan aerator tambak dan mesin desalinasi pengolah air payau. Keberlanjutan operasional fasilitas ini dikelola koperasi desa lewat iuran Rp25 ribu per keluarga setiap bulan.
“Program ini telah kami buktikan berjalan baik dan memberi manfaat nyata dan luas bagi masyarakat Dusun Bondan,” ujar Jamaludin, penerima Local Hero Award TJSL Pertamina Group 2023.
Kedua wilayah tersebut merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dijalankan PT Pertamina (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sejak 2018.
Secara nasional, Pertamina mencatat sebanyak 310 Desa Energi Berdikari telah beroperasi hingga saat ini, dengan 60 persen berada di luar Pulau Jawa. Jumlah tersebut ditargetkan mencapai 334 desa pada akhir 2026 dan diperluas hingga 732 desa pada 2030.
“Kami berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat, berbasis sumber daya lokal,” kata VP CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto.
Pemanfaatan energi dari tenaga surya, biogas, mikrohidro, hingga hibrida ini secara keseluruhan menghasilkan kapasitas listrik 1,595 juta Wp dan 973 ribu meter kubik biogas. Program ini juga berdampak pada sektor pangan dan perikanan.
Di Desa Keliki, Ubud, pasokan energi dan air yang stabil membuat frekuensi panen padi meningkat hingga tiga kali setahun dengan hasil naik dari 3–4 ton menjadi 7 ton per hektare. Di sektor perikanan, DEB Pesisir Modern berkontribusi terhadap produksi 390 ton ikan tangkap per tahun.
Secara keseluruhan, nilai ekonomi kerakyatan dari program ini menembus angka Rp26 miliar per tahun dengan lebih dari 283 ribu penerima manfaat, serta berkontribusi pada pengurangan emisi lebih dari 1,1 juta ton CO2 ekuivalen. Sebanyak 223 penggerak lokal juga telah tersertifikasi sebagai operator energi baru terbarukan.















Komentar ditutup.