Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Jayapura

Electrifying Agriculture: Lahan Subur, Petani Papua Makmur

badge-check

Proses penyiraman menggunakan sprinkle di  bedengan kebun Marten Luter Nerotouw di Kampung Waibron / Sudjarwo Perbesar

Proses penyiraman menggunakan sprinkle di bedengan kebun Marten Luter Nerotouw di Kampung Waibron / Sudjarwo

​Tshh… tshh… tshh… Suara air menyembur keluar dari pipa-pipa nosel sprinkler, memecah keheningan pagi di Kampung Waibron, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (6/11/2026). Semprotan air merata membasahi hamparan daun sawi hijau yang tertata rapi di atas bedengan kebun.

Jayapura, Euforia.id | ​Marten Luter Norotouw berdiri di antara bedengan, mengawasi proses penyiraman tanaman sayurnya. Setiap pagi ia harus memastikan seluruh tanamannya mendapatkan asupan air yang cukup.

​Aktivitas di lahan kebun itu sudah menjadi rutinitas yang ia jalani begitu membuka pintu rumah. Seberes proses penyiraman, Marten melangkah ke bedengan lain miliknya yang masih berupa lahan gembur kosong.

Sambil membungkuk, ia menancapkan cangkul ke tanah yang basah, merapikan lahan itu untuk disiapkan sebagai media tanam berikutnya.

​Marten mengelola beberapa petak bedengan di lahan yang tak jauh dari depan rumahnya. Sawi hijau dan kangkung menjadi komoditas utama yang ia tanam untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.

​Jauh sebelum ia menekuni rutinitas sebagai petani dan merawat ribuan bibit hortikultura, perjalanan hidup pria berusia 39 tahun ini justru berawal dari atas kapal laut.

Marten merupakan lulusan sekolah pelayaran yang pernah mengarungi rute Biak, Numfor, hingga Manokwari sebagai nakhoda.

​Semasa bertugas sebagai seorang pelaut, Marten memiliki kebiasaan yang tergolong unik. Setiap kali kapal bersandar di pelabuhan, ia memilih menghabiskan waktu luangnya dengan berjalan kaki mencari perkebunan warga.

​Ia mendatangi petani lokal, duduk mengobrol di pondok-pondok sederhana, dan mempelajari cara mengolah tanah. Ketertarikan pada dunia tani membuat pria asal Kampung Yongsu, Tanah Merah, itu mantap memutuskan berhenti berlayar pada 2010 untuk memulainya dari sepetak lahan milik orang tuanya.

​”Untuk kelompok tani sendiri, saya bangun di tahun 2015 bersama teman-teman. Kalau saya sendiri bertani di tahun 2010,” kata Marten kepada Euforia.id.

​Memanfaatkan lahan pribadi, Marten merangkul warga sekitar. Pada 2015, ia bersama rekan-rekannya merintis Kelompok Tani Pelita Jaya Makmur.

​”Kelompok tani itu kurang lebih ada empat orang yang tergabung pada awalnya. Sejalannya waktu bertambah sampai sekarang sudah mencapai ada 50-an orang. Mayoritas petani asli Papua,” ujarnya.

Marten Luter Norotouw menatap kebun sayurnya yang menghijau / Dok

​Perkembangan kelompok yang dirintisnya itu menarik perhatian Yayasan Bina Tani Sejahtera yang datang memberikan pendampingan teknis sejak tahun 2023.

​Ganang Gaga Prakoso, Team Leader Yayasan Bina Tani Sejahtera, menjelaskan saat itu mereka mulai mengembangkan dan belajar bersama petani mengenai budidaya bawang merah dari biji, dan hasilnya cukup berhasil.

​”Seiring dengan proses pendampingan, jenis tanaman yang dibudidayakan semakin beragam. Awalnya lebih banyak sayuran daun, kemudian berkembang hingga mampu membudidayakan bawang merah, buah-buahan seperti semangka, dan komoditas lainnya,” ungkap Ganang kepada Euforia.id.

​Pendampingan itu tidak hanya memperkenalkan teknik budidaya baru, tetapi juga mendorong petani untuk mengembangkan jenis komoditas dan meningkatkan keberagaman usaha taninya.

​Setelah itu, para ahli pertanian dari Yamagata, Jepang, ikut mendampingi mereka selama lima tahun untuk menguji sampel tanah dan air serta mengajarkan cara membaca kandungan unsur hara.

​Marten mengakui, teknik penanaman yang ia terapkan kini, juga mendapatkan bimbingan dan pengetahuan dari ahli pertanian asal Jepang.

​”Dari Jepang juga sempat mengajarkan kami. Ahli pertanian dari Jepang datang memberikan bimbingan selama lima tahun, mereka ajarkan kami tentang struktur tanah, periksa sampel tanah dan air, sampai teknik-teknik pertanian lainnya,” kenang Marten.

Teknologi Irigasi dan Smart Farming

​Angin perubahan di kebun Marten mulai berhembus saat inovasi teknologi berbasis listrik merambah kawasan perkebunannya. Melalui rekomendasi Yayasan Bina Tani Sejahtera, ia diperkenalkan dengan program dari PT PLN (Persero).

​”Mereka rekomendasikan saya ke program PLN. PLN bantu saya dengan sistem irigasi sprinkler berbasis listrik, karena awalnya kan kami bekerja secara manual, siram manual, butuh waktu yang cukup lama,” ujar Marten.

Marten Luter Norotouw mengecek tanaman sayurnya / Dok

Keterlibatan PLN pada kebun Marten itu merupakan upaya mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terus dilakukan oleh PT PLN (Persero), khususnya melalui Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku dan Papua.

Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau PLN Peduli yang wajib dilakukan setiap tahun dengan kategori bantuan yang beragam, PLN menghadirkan inovasi berbasis teknologi melalui program Electrifying Agriculture atau Smart Farming di Kampung Waibron.

Berdasarkan data BPS 2023, inflasi bahan pangan di Papua sempat menjadi persoalan pelik yang dipicu oleh ketergantungan pasokan dari luar daerah.

​Asisten Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UIP Maluku dan Papua, Landi Simanjuntak, menjelaskan program itu bertujuan untuk memberdayakan masyarakat maupun kelompok di sektor pertanian yang mengintegrasikan pemanfaatan energi listrik dengan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas budidaya tanaman holtikultura.

“Program ini bagian dari PLN Peduli, TJSL, CSR yang tiap tahun wajib dilakukan. Kami memulai dari social mapping untuk memastikan program yang dijalankan benar-benar menjawab persoalan di lapangan. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Landi kepada Euforia.id.

Program di Kampung Waibron itu dilakukan lewat pemetaan sosial yang matang agar bantuan yang digelontorkan benar-benar menjawab kebutuhan akar rumput.

​”Kami memulai dari social mapping untuk memastikan program yang dijalankan benar-benar menjawab persoalan di lapangan. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Landi kepada Euforia.id.

​Di atas lahan seluas 500 meter persegi, kebun Marten disulap menjadi pusat pembelajaran terbuka atau learning farm. Di tempat inilah teknologi irigasi sprinkler otomatis diperkenalkan kepada warga.

Pendekatan partisipatif diterapkan di mana masyarakat dilibatkan langsung sebagai pelaku gotong royong, bukan objek pasif, termasuk dalam pengelolaan operasional, pemeliharaan fasilitas, dan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Kelompok Tani Pelita Jaya Makmur memegang kendali penuh, di mana sebagian hasil panen disisihkan untuk dana kelompok demi menjaga keberlanjutan usaha.

​”Pelibatan aktif masyarakat menjadikan program ini bukan sekadar proyek bantuan, melainkan kolaborasi berbasis gotong royong,” jelas Landi.

Pendampingan teknis di lapangan juga diperkuat oleh keterlibatan akademisi. Dani Wambrauw, Dosen dan Koordinator Program Studi Teknologi Pangan Universitas Cenderawasih (Uncen), menjelaskan bentuk intervensi yang dihadirkan itu berfokus langsung pada pemetaan masalah riil di tingkat tapak.

​Ia memandang, kehadiran infrastruktur dasar dan intervensi program pemerintah maupun BUMN itu memberikan arti penting, terutama bagi wilayah sentra produksi yang infrastruktur utamanya masih terbatas.

​”Program itu sebenarnya sangat bagus. Karena kita butuh, apalagi di daerah-daerah yang kita bilang terpencil yang belum tersentuh sama akses-akses jalan misalnya, sangat memudahkan mereka,” ujar Dani.

Efisiensi Waktu

​Sistem penyiraman otomatis berbasis listrik itu mengubah total efisiensi kerja di lapangan. Sebelum ada sprinkler dari PLN, Marten membutuhkan waktu dua jam penuh untuk menyiram lahan seluas 500 meter persegi secara manual.

​”Sangat mempersingkat waktu kerja saya. Sebelumnya dengan cara manual itu, saya bisa menghabiskan waktu dua jam untuk proses penyiraman di lahan saya yang kurang lebih 500 meter persegi. Nah, dengan adanya sprinkler otomatis ini, dalam jangka waktu lima menit saja sudah selesai,” kata Marten.

​Kini, proses penyiraman seluruh lahan rampung dalam waktu lima menit. Air disedot dari sumur bor menggunakan dua mesin untuk mengisi tandon penampungan, lalu disemprotkan ke lahan secara otomatis menggunakan sprinkler.

​”Jadi waktu yang tersisa itu saya bisa kerjakan yang lain, mungkin untuk tanam. Di sini kami pasang dua titik sprinkler,” jelasnya.

Bedengan kebun sayur Marten Luter sedang disemprot menggunakan sprinkle sebelum proses tanam / Dok

​Di tengah cuaca kemarau, keandalan sistem irigasi listrik ini menjaga efisiensi kerja sekaligus memangkas beban fisik petani.

​Setiap komoditas diatur pembagiannya di antara 50 anggota kelompok, ada yang menanam sawi dan kangkung, ada pula yang menggarap cabai, tomat, jagung, kacang panjang, hingga padi.

​”Musim kemarau saat ini sangat membantu sekali. Air semua pakai sumur bor, jadi dari tanah naik ke tandon, dari tandon ada mesin lagi untuk cover dan menggunakan sprinkler untuk ke lahan lagi,” ujarnya.

​Pola kerja itu menjamin ketersediaan pasokan sayur dari lahan kebunnya. Setiap harinya, ada sayuran yang dipanen, dan pada saat yang sama ia menyiapkan satu bedeng baru untuk ditanam.

​”Di kebun ini saya tanam sayuran, jadi setiap hari itu ada yang ditanam dan ada yang dipanen. Cabe dan tomat ada teman kelompok yang tanam. Jadi kami bagi-bagi komoditi, bagi pokok kerja,” tuturnya.

Sayur sawi yang tumbuh subur di bedengan kebun Marten Luter / Dok

​Ganang dari Yayasan Bina Tani Sejahtera melihat langsung bagaimana integrasi teknologi ini mengubah ritme kerja kelompok tani.

​”Lahan Om Marthen juga dimanfaatkan sebagai Learning Farm atau lokasi pembelajaran bagi petani. Program ini berjalan melibatkan kelompok tani. Manfaatnya cukup besar. Selain mendapatkan dukungan sarana produksi pertanian (saprodi), petani juga belajar menerapkan sistem pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujar Ganang.

​Salah satu manfaat yang paling dirasakan adalah penggunaan listrik untuk mendukung sistem penyiraman otomatis. Dengan adanya sistem irigasi ini, proses penyiraman menjadi lebih mudah dan membantu petani dalam pemeliharaan tanaman.

​”Harapannya, penerapan teknologi seperti ini dapat menjadi contoh dan mendorong petani lain untuk mulai mengenal serta memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pertanian,” harapnya.

Dampak Simultan

​Kecipak… kecipak… Sepatu bot Marten kembali menapak di tanah basah saat ia melangkah menuju bedengan yang sudah dipenuhi sayuran hijau yang siap dipanen. Dari satu bedengan berukuran 30 x 1 meter, ia mampu mengantongi hasil rata-rata Rp600.000 hingga Rp700.000 sekali panen.

​”Kalau pendapat saya pribadi itu pertanian ini pendapatannya tidak terbatas. Berapapun yang kami inginkan, misalnya saya mau satu hari saya dapat Rp1 juta, bisa saya dapat Rp1 juta, atau mau satu hari saya dapat Rp5 juta, bisa saya dapat dalam satu hari Rp5 juta, semua tergantung kepada kami sendiri,” kata Marten.

​Hasil panen berupa sayuran segar dari kebun Marten itu sudah tak lagi mencari-cari pembeli, karena sudah dipesan oleh sejumlah pelanggan. Bahkan, ada yang langsung dijemput oleh pengelola Dapur MBG pada malam hari untuk segera diolah tanpa perlu melalui perantara pasar kota.

​”Kami sudah punya pelanggan yang biasa datang ambil di sini. Salah satunya itu ke Dapur MBG. Pagi, sore, sampai malam. Kalau MBG masuk itu malam, mereka jemputnya malam. Jadi dari kebun langsung masuk ke dapur, langsung mereka olah,” ujarnya.

Petani lokal di Kampung Waibron tampak senang dengan hasil panen / Dok

​Kehadiran program dukungan dari PLN itu terbukti memberikan dampak multidimensi secara simultan. Dari aspek produktivitas, sistem irigasi sprinkler otomatis menekan pemborosan air, menjaga kelembaban tanah, mencegah erosi, serta membuat komoditas tumbuh lebih stabil.

​Dari aspek sosial-ekonomi, pendapatan petani meningkat, kolaborasi komunitas semakin erat, dan tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan program tercatat sangat tinggi.

​Inovasi itu turut mengantarkan PLN UIP Maluku Papua meraih penghargaan TOP CSR Awards 2026 dengan predikat Star 3, pada Mei lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi PLN UIP Maluku Papua dalam menghadirkan program TJSL yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik produktif sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

​Dalam kacamata akademisi, Dani Wambrauw mengakui sistem irigasi otomatis berbasis listrik itu memberikan pertolongan yang sangat nyata bagi operasional harian petani di sentra produksi. Namun, ia juga menitipkan gagasan agar ke depannya inovasi itu bisa didorong ke level yang lebih hijau.

​”Itu sangat menolong. Jadi dampaknya ada. Tapi kalau misalnya sistemnya nanti di kemudian hari menggunakan solar panel, itu akan lebih bagus, sehingga lebih ke green energy,” saran Dani.

Keberhasilan Marten Luter Norotouw mengelola kebunnya di Kampung Waibron memperlihatkan bagaimana integrasi ketekunan petani lokal dan dukungan teknologi kelistrikan mampu menghadirkan kemandirian pangan, efisiensi sumber daya, serta kesejahteraan yang nyata bagi para petani di tanah Papua.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Menyemai Masa Depan Petani Asli Papua dengan Inovasi Ramah Lingkungan

6 Nov 2026 - 19:52 WIB

Menyemai Masa Depan Petani Asli Papua dengan Inovasi Ramah Lingkungan

Pertamina Dorong Kemandirian UMKM Lewat Akses Pasar dan Pembinaan Berkelanjutan

6 Nov 2026 - 17:31 WIB

Pertamina Dorong Kemandirian UMKM Lewat Akses Pasar dan Pembinaan Berkelanjutan

Bank DBS Indonesia Dukung Transformasi Talenta Hadapi Pergeseran Kerja Berbasis AI

6 Nov 2026 - 10:03 WIB

Bank DBS Indonesia Dukung Transformasi Talenta Hadapi Pergeseran Kerja Berbasis AI

Ganja Masih Terus Beredar, BNNP dan Polda Papua Perkuat Penindakan

4 Nov 2026 - 19:43 WIB

Ganja Masih Terus Beredar, BNNP dan Polda Papua Perkuat Penindakan
Trending di Jayapura