Euforia.id | Legenda Inggris, Gary Lineker pernah melontarkan sebuah komentar tentang kehebatan tim Panser Jerman “Sepak bola adalah permainan sederhana, dan pada akhirnya, Jerman yang akan menang.”
Namun, pamor Jerman sebagai tim spesialis turnamen yang terpahat selama bertahun-tahun menguap tanpa bekas, sejak di Kazan Arena, Rusia (2018) dan Al Khor, Qatar (2022).
Jerman, sang raksasa empat bintang, kini menjadi tim yang rapuh, penuh keraguan, dan sulit melangkahkan kaki ke fase yang lebih jauh di ajang Piala Dunia. Bahkan, untuk kali ketiga secara beruntun, tim Panser gagal lolos ke babak 16 besar usai takluk dari Paraguay lewat adu penalti di Boston Stadium, Amerika Serikat, 29 Juni 2026.
Padahal, sebelum mengangkat trofi Piala Dunia 2014, Jerman tak pernah gugur lebih cepat sejak 1954. Empat di antaranya sebagai runner up, tiga kali juara ketiga, dan mengoleksi empat bintang juara.
Konsistensi Jerman di Piala Dunia bahkan memberikan julukan kepada mereka sebagai tim spesialis turnamen.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik runtuhnya dominasi Die Mannschaft?
Kembali ke titik tertinggi mereka di Rio de Janeiro, Brasil, tahun 2014 silam. Setelah mengangkat trofi Piala Dunia, terjadi romantisasi masif terhadap generasi juara. Joachim Löw, yang dipuja sebagai arsitek jenius, terjebak dalam lingkaran kenyamanan.
Pada Piala Dunia 2018, loyalitas buta terhadap pilar lama yang mulai melambat membuat Jerman tampil tanpa gairah. Eksekusi taktik menjadi monoton, dan rasa lapar akan kemenangan membuat mereka jemawa, bahwa “status Jerman” cukup untuk menggentarkan lawan.
Hasilnya? Kekalahan memalukan dari Meksiko dan Korea Selatan mengirim mereka pulang paling awal.
Secara taktis, Jerman mengalami krisis eksistensial. Terpesona oleh tren tiki-taka dan konsep false nine yang merajai Eropa, sistem pembinaan Jerman sempat melupakan cetak biru asli mereka, yakni ketiadaan striker nomor 9 murni yang tangguh dan mematikan di kotak penalti, seperti Miroslav Klose atau Gerd Müller.
Sekarang, mereka hanya punya Deniz Undav, striker kelas dua yang diboyong serta ke Amerika Serikat. Usianya bahkan sudah sangat tua untuk level timnas Jerman yang dulu dikenal sebagai pencetak striker muda berbakat.
Dari segi permainan, Jerman mendominasi penguasaan bola (sering kali di atas 65%), melepaskan puluhan tembakan, namun tidak memiliki penyelesai akhir yang klinis. Statistik menunjukkan bahwa pada Piala Dunia 2022, Jerman menjadi salah satu tim dengan angka harapan gol (Expected Goals/xG) tertinggi di fase grup, namun efisiensi konversinya berada di papan bawah.
Aspek yang paling krusial dari kejatuhan timnas Jerman ini adalah hilangnya identitas mereka sebagai Turniermannschaft, sebuah istilah bahasa Jerman untuk tim yang selalu tahu cara memenangkan turnamen besar, bahkan ketika mereka tidak bermain dengan performa terbaiknya.
Karakter keras kepala, disiplin baja, dan ketahanan psikologis yang dahulu ditakuti lawan kini berubah menjadi kerapuhan.
Hat-trick kegagalan menembus babak 16 besar Piala Dunia berturut-turut (2018, 2022, 2026) membuktikan bahwa problem mereka adalah krisis mentalitas kompetitif yang tampaknya telah terkikis dari DNA sepak bola Jerman modern.

















Komentar ditutup.