Jayapura, Euforia.id | Yayasan Nusantara Sejati bersama UNICEF Indonesia menjalankan program intervensi pendidikan di sekolah-sekolah tingkat PAUD dan Sekolah Dasar di Mamberamo Tengah serta Yalimo.
Program ini difokuskan untuk mengatasi persoalan mendasar terkait kemampuan membaca dan berhitung anak-anak di daerah tersebut.
Direktur Eksekutif Yayasan Nusantara Sejati, Eka Simanjuntak, menjelaskan bahwa hambatan utama literasi di tingkat dasar bermula dari absennya kurikulum keterampilan fondasi.
Jenjang SD saat ini langsung mengenalkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika tanpa melalui tahapan pengenalan bunyi huruf atau fonik secara memadai.
”Kita itu tidak punya pembelajaran khusus literasi dan numerasi di tingkat awal. Di SD langsung ada pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Padahal, sebelum masuk ke Bahasa Indonesia, ada keterampilan fondasi yang selama ini tidak pernah diajarkan,” ujar Eka.
Eka mencontohkan proses mengeja kata “mama” yang kerap diajarkan berdasarkan hafalan abjad mentah, seperti “em-a-em-a”, alih-alih pelafalan bunyi huruf yang tepat.
Selain itu, keterampilan motorik halus seperti menulis di udara atau di punggung teman serta pemahaman orientasi buku dari kiri ke kanan sering kali terlewatkan sebelum anak memasuki bangku SD.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, yayasan menerapkan metode DUBT (Dengar, Ucap, Baca, Tulis) yang menyelaraskan proses penerimaan informasi melalui pendengaran dan membaca dengan keluaran berupa ucapan serta tulisan. Berdasarkan penilaian pihak ketiga, sekolah yang mendapatkan intervensi ini menunjukkan peningkatan hasil yang objektif.
Meski demikian, pelaksanaan di lapangan menghadapi berbagai kendala operasional. Adanya efisiensi anggaran membuat pihak yayasan mengurangi jumlah sekolah sasaran, setelah sebelumnya didukung oleh UNICEF dan pemerintah Australia.
Selain itu, rotasi guru yang telah dilatih ke sekolah lain dan faktor lainnya, turut memengaruhi keberlanjutan program tersebut di Yalimo.
Kendati demikian, Eka tetap optimistis bahwa permasalahan literasi dan numerasi di Papua dapat diselesaikan secara tuntas.
“Selama gurunya ada dan anak-anaknya datang ke sekolah, masalah literasi dan numerasi itu bisa kita selesaikan,” pungkasnya.















Komentar ditutup.